Thursday, December 8, 2011

Umur manusia siapakah yang tahu...?

Umur manusia siapakah yang tahu...?

Dia adalah seorang anak yang begitu imut, begitu manisnya hingga saya yakin setiap yang melihatnya pasti akan tersenyum.
Dia seorang yang sangat kami sayangi...
Dia seorang yang taat, sangat baik, sangat ceria, dan ia seorang anak yang begitu tulus..

Masih teringat di benakku akan keramahannya menyapa gurunya di pagi hari, sering kali ketika jumlah murid yang datang belum mencapai 10 orang.

Rumahnya tidak dekat. Cukup jauh. Tetapi ia begitu rajin.

Memang nilainya tidak tinggi sekali, tetapi tidak juga rendah sekali, namun sikapnya merupakan satu penghiburan besar bagi guru-guru.

Dikatakan orang-orang, karena kelalaian orang tua, maka anak ini terlalaikan dan terlambat untuk diselamatkan.

Jikalau saya memposisikan diri sebagai orang tua dari anak itu, maka ntahlah bagaimana perasaan saya saat ini. Saya orang tua yang dikenal sibuk bekerja  di toko, sehingga sekarang saya harus kehilangan anak sulung saya karena kesibukan dan kelalaian saya.

Tidakkah lebih baik aku, orang lain ini, yang tidak bisa memperkirakan betapa besar penyesalan dari orang tua tersebut, untuk ikut berduka bersama mereka, daripada aku ikut mempersalahkan mereka..

Semakin mempersalahkan mereka, rasanya makin sakit hati ini...

Begitu dalam dan sakit ternyata rasa keterhilangan itu. Kukira aku sudah tahu bagaimana rasa kehilangan, namun ternyata aku harus terkejut dengan kesakitan yang makin dalam ketika pengalaman kehilangan harus kembali terjadi.

Rasa kehilangan ini tentu bisa terhapuskan jikalau aku tahu dengan pasti bahwa ia telah mengenal Allah yang kupercaya.. Namun.. aku tidak tahu dengan pasti hal itu.
Dia tidak pernah ke Gereja, tapi yang aku tahu dia telah bersekolah di sekolah kristen ini dari TK hingga kelas 5.. hampir 7 tahun...

Aku hanya bisa berharap bahwa ia telah mengenal Kristus.

Manusia begitu sementara. Tidak ada yang tahu kapan tiba waktunya untuk meninggalkan dunia yang fana ini.

Karena itu giatlah! Janganlah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabarkan kabar sukacita yang telah engkau terima!

Wednesday, October 5, 2011

This is my Father's world

1. This is my Father's world,
and to my listening ears
all nature sings, and round me rings
the music of the spheres.
This is my Father's world:
I rest me in the thought
of rocks and trees, of skies and seas;
his hand the wonders wrought.

2. This is my Father's world,
the birds their carols raise,
the morning light, the lily white,
declare their maker's praise.
This is my Father's world:
he shines in all that's fair;
in the rustling grass I hear him pass;
he speaks to me everywhere.

3. This is my Father's world.
O let me ne'er forget
that though the wrong seems oft so strong,
God is the ruler yet.
This is my Father's world:
why should my heart be sad?
The Lord is King; let the heavens ring!
God reigns; let the earth be glad!

Published with Blogger-droid v1.7.4

Friday, September 30, 2011

Bercerita Melalui Musik


Wah..... Sudah lama tidak menulis.. Kangennya.. :p
*Intermezzoooo...*

Ada banyak hal yang ingin kutulis tapi karena tertunda terus akhirnya banyak yang terlupakan./sweat

Salah satu yang dinikmati hari ini dan ingin kubagikan hari ini adalah bercerita melalui musik.

Aku ini bukan seorang musician handal... Hanyalah seorang pecinta musik dan pengkhayal serta pencerita melalui musik, dengan dasar yang juga sebenarnya sangatttt dasar dan kemampuan bermusik yang terbatas. Namun... izinkanlah pecinta musik ini membagikan tentang apa yang dinikmatinya : bercerita melalui musik..

Karena aku ini tidak pernah sekolah/les musik (istilah lain : belajar secara otodidak), maka sebelumnya aku memainkan lagu hanya dengan feel : “Sepertinya enak deh kalau main musik masuk ke chord yang ini.”
Itulah yang kulakukan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya... dalam sekitar satu tahun ini aku baru mulai menikmati bercerita melalui musik.

Ada cerita dalam lirik yang ditulis oleh penulis lagu oleh karena itu biasa yang pertama aku lakukan adalah memposisikan diri ke dalam apa yang diceritakan penulis. Setelah mampu meng-capture cerita dari penulis (walau tidak sempurna), kita akan menikmati indahnya lagu yang ditulis penulis itu dan saat itulah aku mulai mencari chord yang sesuai dengan lirik lagu tersebut.
Jikalau liriknya senang/berpengharapan, maka in my opinion, lirik tersebut seharusnya ditemani chord-chord mayor.

Why?

Karena di dalam pemahaman yang pernah kudapatkan, chord minor memberikan “nada-nada setengah”, maksudnya nada-nada # (sharp/kres) & b (flat/mol). Sehingga chord minor kalau mau disederhanakan dengan bahasa yang sederhana dan terbatas, lebih tepat untuk menceritakan kondisi sedih, kondisi putus asa, kondisi takut, dan kondisi-kondisi yang serupa. 
Namun bukan berarti dalam satu lagu bertema sukacita bakal tidak ada chord minor... Bukan itu maksudku. Chord minor harusnya tetap ada, karena gabungan-gabungan chord membuat musik/lagu semakin indah.
Oleh karena itu, jikalau lirik lagu tersebut bernada sukacita/berharap, lirik tersebut lebih tepat ditemani dengan chord mayor, atau mungkin bisa juga ditemani dengan chord “ON”. Misalkan, menggantikan Am dengan F/A.

Yah... Itulah sedikit yang bisa aku jelaskan tentang menyesuaikan chord dengan lirik yang ditulis oleh penulis dan pencipta lagu. Hal ini bagiku membuat lagu semakin hidup. Pemusik bisa menceritakan isi lagu tersebut lewat musik yang ia mainkan.

Di persekutuan pemuda hari ini aku menikmati satu alunan musik yang bercerita. Lagu ini aslinya menggunakan bahasa mandarin, dan kalau di-translate ke inggris menjadi : The Path of Grace.”
Lagu yang indah yang menceritakan bagaimana penulis menikmati melangkah di dalam anugerah sepanjang hidup yang penuh anugerah. 
Nada yang indah diikuti dengan lirik yang begitu indah akan semakin indah jika ditemani chord yang tepat.

In the end...
Bersyukur jikalau Tuhan memberikan talenta musik dan memberikan anugerah untuk bisa menikmati musik, menikmati Dia dalam musik, berkata-kata denganNya melalui lagu, dan juga bercerita tentang pengalaman kita dengan Dia melalui lagu.
Bersyukur juga untuk setiap penulis dan pencipta lagu, yang telah Tuhan anugerahkan.

And... Buat para musician...
Yuk! Bercerita melalui musik/lagu! :D  
/bye

Tuesday, July 19, 2011

ratapan

Allahku adalah Allah yang berkuasa.
Allahku adalah Allah yang telah mengatur segalanya dengan baik adanya.

Oleh karena itu...
Apakah sebenarnya yang harus aku lakukan, Tuhan, di negara yang Kau tempatkan ini?
Apakah tujuan sebenarnya?

Bangsa ini memang makin terlihat menuju kehancuran...
Tapi Engkaulah satu-satunya yang bisa memulihkan negeri ini...

Engkau menunjukkan mujizat dan penyertaan yang begitu dahsyat bagi bangsa Israel, maka Engkau sesungguhnya bisa melakukan apa pun untuk ada titik pemulihan di negeri ini...

Karena itu ya Allah...
Tolong pulihkanlah pemerintahan di negara ini... pulihkanlah bangsa ini....

Wednesday, July 13, 2011

Karya Allah Dalam Retreat Pengurus PO Binus 2011 (8-10 Juli 2011)

2-4 Juni yang lalu, di dalam anugerah Tuhan aku bisa ikut dalam retreat yang diadakan dari gereja tempat aku beribadah. Di tengah kondisi kefrustasian rohani yang aku alami, Ia menarikku di dalam kesempatan retreat ini. Dan setelahnya, barulah aku bisa 'alive' atau 'hidup kembali'. Seperti yang pernah aku sharingkan sebelumnya.

Itulah awal mula karya Allah bagi retreat pengurus PO Binus di tahun 2011 ini. 
Allah punya kerinduan agar pengurus PO Binus ke depan adalah orang-orang yang melayani Dia karena mengasihi Dia. Allah rindu agar pengurus PO Binus tidak frustasi dengan kesalahan motivasi, kesalahan pandangannya terhadap visi, kesalahan fokus di dalam pelayanan yang ia kerjakan. Sehingga Ia terlebih dulu menceburkan aku ke dalam kedalaman kasih-Nya di retreat yang aku ikuti 2-4 Juni yang lalu itu. Dan kemudian memakaiku untuk membagikan kerinduanNya kepada setiap pengurus dan pelayan ke depan.


Singkat kata, setelah momen 'hidup kembali' itu, aku baru bisa membuat tujuan sasaran untuk retreat ini. Setelah bergumul, terbentuklah alur acara yang aku pikirkan. 
Sesi 1 dimulai dengan visi dan misi, diteruskan dengan sesi 2 dan 3 yang membicarakan tentang tantangan dunia yang dialami oleh pengurus PMK. Kemudian dilanjutkan dengan sesi 4 dan 5 mengenai spiritualitas pelayan dalam pelayanan yang ia kerjakan, diikuti PA yang mempelajari identitas Allah, kemudian sesi 6 berbicara tentang keseimbangan hidup, dan ditutup dengan persekutuan doa bersama yang bertujuan agar pengurus bisa mencicipi PD yang hidup. Diteruskan ibadah minggu yang mempelajari pemimpin yang rendah hati, dan kemudian sesi 7 mempelajari tentang persaudaraan dalam pelayanan dan ditutup dengan sesi closing bahwa Allah menyertai.


Cukup panjang lebar kutuliskan alur acara yang aku pikirkan itu. Hahaha... Tapi tentunya semua itu ada maksudnya.. Hohoho..
Singkat kata lagi... Di h-1 dan di hari h, akhirnya pembicara sudah pasti bahwa sesi 1-5 akan diubah, ntah itu alur, atau tujuan sasaran - nya. Aku takut dan bertambah takut.
Memang benar aku mengajak setiap pembicara ini untuk bersama-sama bergumul, namun betapa aku kaget ketika jawaban pergumulan itu baru pasti ketika h-1 dan di hari h-nya. Seakan-akan, -- jikalau menggunakan kata yang kasar --, alur acara yang telah kupikirkan serasa 'dirusak'...


Namun sesungguhnya, Tuhan sedang menjawab doaku. Sebelumnya aku berdoa agar Tuhan kembali membuatku takjub padaNya lewat retreat ini, dan inilah hasilnya. Ia seakan-akan 'merusak' alur acara yang ada, dan aku bersyukur, karena aku terlebih lagi mencari Dia ketika alur ini sudah 'rusak'.


Di akhir ibadah minggu, ketika sesi alone with God, aku boleh semakin melihat, sesungguhnya Tuhan telah menyempurnakan. Allah MENYEMPURNAKAN alur acara yang aku buat.
RETREAT INI BUKAN KERINDUAN HATIKU, TETAPI KERINDUAN HATINYA.
Tuhan terlebih dulu memiliki rancangan yang indah bagi setiap peserta yang ikut dalam retreat ini, dan betapa aku bersyukur kalau Ia boleh memakai hamba yang lemah ini untuk membagikan kerinduan hati-Nya.


Ia tidak hanya merancang alur acara... Tema dan lagu tema, itu juga adalah kerinduan hatiNya. Aku tidak memikirkan judul tema dan lagu tema dengan baik, namun akhirnya Ia menyatakannya.




"Use Us, Lord"

Kiranya ini yang terus menjadi kerinduan dan seruan hati kita, baik yang akan meneruskan pelayanan di PO Binus ini, ataupun kita yang akan melanjutkan panggilan untuk mengabdi bagi kemuliaanNya. Biarlah Allah Roh Kudus yang boleh bekerja lewat apa yang kita kerjakan, dan biarlah kita ini terus-menerus bekerja semaksimal, segiat mungkin, sehingga kita semakin melihat karyaNya bagi apa yang kita kerjakan.


Selamat terus melayani Allah karena Allah sudah terlebih dulu mengasihimu. ^^
God bless you all... :)

Wednesday, June 15, 2011

Transforming Spirituality - sesi 7 - Kehidupan Kerohanian yang BENAR

Transforming Spirituality - sesi 6 - Kehidupan Kerohanian yang SALAH

Kembali berbicara tentang jurang dosa.
Jika ditanya berapa besar ukuran dari jurang dosa, apakah jawabanmu?

Jurang dosa tidak terukur panjangnya. Mengapa? Karena jurang spiritual ini memisahkan Allah yang suci dengan manusia yang begitu rusak.
Kalau begitu, berapa besar ukuran salib itu?
Salib itu tidak terukur! Oleh karena itu, salib itulah yang menyebabkan kita bisa menyeb'rang ke Allah.

Kalau begitu, ketika pertama kali kita percaya Yesus dan setelah kita percaya, sudahkah kita punya jumlah yang aktual tentang dosa dan salib?
BELUM! Pemahaman salib dan dosa tidak objektif, karena dosa dan salib tidak terukur.

Mari kita membaca 1 Korintus 15:9, Efesus 3:8, dan 1 Timotius 1:15.
Ketiga surat tersebut adalah surat yang ditulis oleh Paulus. Surat 1 Korintus ditulis di awal pelayanan Paulus dan di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara rasul-rasul". Surat Efesus ditulis di tengah pelayanannya, dan di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang percaya." Dan surat 1 Timotius yang ditulisnya di masa akhir pelayanannya, di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang berdosa."

Jika kita membandingkan Paulus dengan perumpaan mengenai hutang 50 dan 500 dinar yang ada di Lukas 7:41-43, mungkin waktu menulis surat 1 Korintus itu Paulus seperti berhutang 50 dinar, ketika menulis surat Efesus katakanlah Paulus berhutang 500 dinar, dan sampai ke masa ia menulis surat 1 Timotius mungkin Paulus berhutang 5 juta dinar.


Actual size dari salib sama, namun dalam pemahaman size-nya menjadi berbeda. Dan mungkin pemahaman Paulus mengenai besarnya salib tidak berhenti di 1 Timotius saja, karena mungkin pemahaman akan besarnya salib semakin bertambah dan semakin bertambah. Oleh karena itu, ucapan syukur kita tidak akan bisa dibandingkan dengan apa yang kita terima. Tidak akan pernah cukup ucapan syukur itu.

Kalau begitu, apakah salib pernah menjadi masa lalu?
TIDAK! Justru salib itu akan bertambah besar dan itulah pertumbuhan kita.
Hidup kudus bukan berarti hidup makin bersih dan makin bersih. Kalau hidup kudus itu artinya makin bersih, berarti Paulus tidak punya kekudusan hidup karena toh dia makin lama makin jorok dan makin jorok.
Hidup kudus bukan berarti hidup makin bersih dan makin bersih, justru makin jorok, makin jorok dan makin jorok. Makin jorok bukan berarti kita lalu melakukan dosa dengan sekeinginan hati kita. Itu justru terkutuk, tulis Paulus di surat Roma.

Kalau begitu, apa sih pertumbuhan itu?
Pertumbuhan adalah bertambah besarnya salib karena kita makin ngeliat betapa celakanya aku tanpa salib. Kristen tidak menawarkan hidup makin bersih, tapi bukan juga berarti kita makin jorok di dalam tingkah laku hidup kita.

Lalu, kenapa kita ga sadar salib semakin besar?
Karena kita butuh kesadaran betapa besarnya dosa.
Dan bagaimana caranya kita bisa melihat besarnya dosa hingga mendekati ukuran aktual?
Dengan makin melihat kekudusan Allah (ketinggian salib).

Jika kita ingin tahu berapa kedalaman sesuatu, kita pasti harus tahu tingginya, dan kalau kita mau tahu berapa ketinggian sesuatu, kita perlu tahu kedalamannya.
Jika mau melihat berapa tingginya salib, kita harus melihat kedalaman dosa. Dan jika mau melihat berapa dalamnya dosa, kita harus melihat berapa tingginya kekudusan Allah.

Ada 7 jurus yang sering kita pakai untuk membuat dosa makin tidak kelihatan :
- Memakai kriteria yang double
Contoh : Kalau aku ngotot, itu karena aku konsisten. Tapi kalau orang lain ngotot, itu karena orang itu kepala batu.

- Melihat kesuksesan-kesuksesan dan prestasi-prestasi kita, melihat apa yang tidak kita langgar, sehingga melihat kalau aku ini ga jelek-jelek amat.

- Bisa mengukur dosa : Ada yang lebih berdosa dari aku. Jadi dosanya masih boleh nambah.

- Dosa itu dari eksternal.
Contoh : Aku tidak lagi memukul adikku, tetapi di dalam hati, kebencian pada adikku semakin bertambah. Hanya mengukur pada : aku tidak memukul lagi.

- Kita biasa melihat dosa itu ada yang permissive dan ada yang commisive. Dalam perumpamaan mengenai orang Samaria, penyamun melanggar semua yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan imam dan lewi melanggar apa yang seharusnya dilakukan.
=> Contoh lain : Memang tidak berzinah, tetapi di otak setiap hari mikir untuk tidak setia sama isteri. Dosa di otak dibiarkan begitu saja.

(2 lagi tidak disebutkan oleh pembicara...)

Kita sering melihat berapa besar akibat, bukan berapa besarnya dosa, sehingga keterbalikan yang sedang kita alami :
Hidup yang hutangnya makin berkurang, makin berkurang, dan makin berkurang...
Ini yang menyebabkan anda bukan hanya kehilangan salib, tetapi juga salib yang dilihat present oleh Paulus, salib yang dilihat sebagai kabar baik, bagi kita menjadi kabar buruk, karena fokus kita : aku harus begini, aku harus begitu.

Jika kita membaca Lukas 18:9-14, maka kita dapatkan pertumbuhan yang benar, yaitu dari orang yang berdoa seperti orang Farisi, menjadi orang yang berdoa seperti pemungut cukai. Bukan sebaliknya. Karena itu, semakin hari kita tidak merasa lebih baik dari orang lain, karena tidak ada yang bisa kita banggakan, semuanya itu adalah anugerah...

Jikalau begitu, kapankah seseorang memiliki kerohanian yang terbaik di hadapan Allah? Kapan orang itu berkenan di hadapan Tuhan?
Yaitu saat ia melihat Tuhan dan kemudian ia berkata : "Tuhan, betapa aku butuh salibMu." Salib secara kognitif tidak akan bertumbuh, tetapi awareness yang berubah. Ada kerinduan bahwa salib itu semakin besar. Sampai salib itu menguasai seluruh ruang dalam hidup saya. Itu adalah kerohanian terbaik dan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Kalau begitu, apakah yang harus kita lakukan?
1. Lakukan perjalanan ke dalam jiwamu sendiri, bawa senter kekudusan Allah dan berjalanlah ke dalam kegelapan jiwamu. Tiap kali berdosa, bukan lagi melihat pada dosa, tetapi melihat gelapnya jiwa kita dengan melihat terang kekudusan itu. Ketika kita bisa semakin melihat betapa dalam dosa kita, kita semakin bisa melihat betapa besar terang itu. Semakin kita di tempat gelap, makin kita melihat betapa terangnya terang itu. (Baca Mazmur 51).

2. Jalan kegagalan.
Jika kita melihat alur dalam Lukas 18, maka kita bisa membagi alur tersebut demikian.
Lukas 18:9-14 : tentang orang Farisi dan pemungut cukai
Lukas 18:15-17 : untuk kenal Tuhan, harus seperti anak-anak
Lukas 18:18-27 : kalau mau ikut Tuhan, harus tinggalin harta
Lukas 18:28-30 : Petrus merasa berhasil (dibandingkan dengan orang muda tersebut). Karena ia telah meninggalkan segalanya dan mengikut Kristus. Sehingga ia bertanya apa hadiah untukku?
Lukas 18:31-34 : masuk tentang penderitaan Yesus.

2 tokoh :
Farisi -> orang muda
dan
Pemungut cukai -> anak-anak

Lalu Petrus merasa berhasil, namun kemudian di ayat 31-34, Yesus seperti berkata pada Petrus : "Bukan prestasimu, Petrus."
Kapan Petrus baru memiliki pemahaman ayat 31-34?
Ketika ia mengalami brokenness (kehancuran).
Bukan kerohanian yang penuh dengan kejayaan, tetapi pengalaman-pengalaman yang menemui kegagalan-kegagalan kita.

Kita sering jatuh dalam dukacita duniawi karena kita selalu melihat aku ini baik, aku ini OK. Jika kita mengalami brokenness, kita makin melihat kita butuh salib. Setiap kali gagal, makin melihat betapa besar salib. Setiap kali ada penghancuran, kita makin melihat betapa besarnya dosa.

Sehingga ketika kita makin mengalami pergumulan melawan dosa, ketika kita sampai pada dukacita ilahi (bukan duniawi), kita makin sadar kita tidak bisa apa-apa tanpa salib.
Kita perlu bertumbuh dalam salib karena Lukas 7:47 : Makin besar salib, makin besar kasih Tuhan dan ketika kita mengasihi Tuhan, itu sebagai tanda kasih bukan karena guilty, tetapi karena awareness itu makin bertambah dalam.

Penutup : Baca Lukas 7:47 (dengan terjemahan yang sudah diubah)
"Sebab Aku berkata kepadamu : Dosanya yang banyak itu telah diampuni, maka ia banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Transforming Spirituality - sesi 6 - Kehidupan Kerohanian yang SALAH

Transforming Spirituality - sesi 5 - Living As A Son, NOT A Slave

Ada 2 jurang besar dalam kehidupan kita, yaitu :
1. Jurang yang memisahkan kita dengan Allah dikarenakan dosa.
2. Ada gap antara kekristenan kita setelah percaya dengan hidup Kristen yang ideal.


Gambaran kita tentang orang Kristen yang ideal bagi setiap kita berbeda-beda. Cara tahunya adalah pikirkan apa yang selalu membuat kita frustasi dalam kerohanian. Ada orang yang merasa frustasi karena belum penginjilan, maka pastinya di dalam gambaran orang Kristen yang ideal bagi dia salah satunya suka penginjilan. Atau jikalau bagi dia orang Kristen yang baik itu adalah orang yang senang PA, maka salah satu ciri orang Kristen yang ideal bagi dia adalah senang PA.

Gambaran yang jelas tentang hidup Kristen yang ideal adalah sangat penting. Karena gambaran itulah yang menjadi goal kita dari pertumbuhan rohani kita. Dan ketika goal itu tidak tercapai, kita menjadi frustasi.

Maka orang Kristen berikutnya yang bisa menjalani aktivitas keagamaan tanpa kerohanian adalah mereka yang terjebak dalam kekristenan siklus.


Seperti gambar di atas, di dalam perjalanan kerohaniannya kepada hidup Kristen yang ideal, orang tersebut menerima Firman, kemudian mengambil komitmen. Setelahnya ia berjuang dan berjuang memegang komitmen tersebut, namun setelah beberapa saat, orang tersebut gagal dan kemudian jatuh lagi dalam dosa, pada akhirnya merasa bersalah (guilty). Setelah itu mengaku dosa dan memohon pengampunan dari Tuhan, dan mengambil komitmen lagi.

Namun ternyata siklus tersebut tidak berhenti sampai di sana. Karena setelah berkomitmen, berjuang begitu keras, pada akhirnya gagal, merasa bersalah, mengaku dosa dan kemudian meminta ampun lagi, dan mengambil komitmen lagi. Makin hari keadaan orang ini makin parah. Makin lama ia di dalam siklus itu, makin besarlah rasa bersalah yang ia miliki.

Sampai akhirnya ia bisa menang dari dosa tersebut... 1 minggu.. 2 minggu.. 3 minggu.. bahkan sampai 2 bulan.. Namun ternyata setelah itu ia jatuh lagi dan ini makin parah. Karena guilty makin besar.

Sampai kapan saudara akan berputar di siklus ini?
Sampai pada 1 tahap, yaitu ketika ia kehilangan kepercayaan akan iman Kristennya. Ia menjadi apatis dan bahkan tidak mau lagi pengakuan dosa, karena toh nantinya bakal berbuat dosa lagi.
Namun pada satu titik akhirnya ia mengikuti retreat atau KKR atau KPR atau event tertentu yang akhirnya menyadarkan dia dan saat itu dia melakukan recommitment. Dan inilah titik yang semakin parah. Karena siklus tersebut kembali berulang. Ketika gagal, rasa sakit semakin dalam dan kemarahan terjadi pada diri sendiri. Pada titik sebelumnya memang ia juga mulai marah pada diri, namun kali ini lebih besar lagi kemarahan tersebut. Kemudian pada tahap terakhir ia bukan lagi meragukan kekristenannya, tetapi meragukan kekristenan itu sendiri sebagai suatu dusta. Ia bisa berkata bahwa ia percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, tetapi tidak percaya kalau Tuhan Yesus bisa mengubah diri seseorang.

Kita mungkin tetap melayani, namun di dalamnya, kerohanian kita sudah keropos dan hancur. Dan ini adalah kondisi ketika kita mati rohani. Inilah orang yang disebut mati rohani. Orang yang tadinya berjuang begitu keras, namun pada akhirnya mengalami kematian.

DAN INI ADALAH KEROHANIAN YANG SALAH

Apa yang salah dengan kerohanian siklus?
Yang salah adalah perjalanan rohani bermula dan berakhir pada diri kita sendiri. Kita berjuang mati-matian sendiri. Istilah yang sering disebut : Salvation is free, but discipleship is costly. Memang aku selamat itu gratis, namun setelahnya... aku harus bayar harga sendiri, mati-matian untuk mencapai akhir. Di dalam perjalanan rohani jenis ini, tidak ada lagi salib, sehingga :

1. Salib hanya menjadi alat transportasi, bukan sebagai alat untuk transformasi. Sehingga ketika kita mendengar bahwa Yesus adalah Juruselamat, kita menganggap itu adalah untuk orang non Kristen saja. Salib menjadi masa lalu karena perjuangan rohani yang ada bergantung pada diri sendiri.

2. Penerimaan Allah bergantung pada prestasi kita dalam mencapai hidup kudus. Yang kita rasa : kalau aku berhasil, baru kita merasa Allah bangga pada kita. Sesungguhnya pertanyaan : "Banggakah Allah kalau Ia melihat engkau?" atau sejenisnya adalah pertanyaan yang melecehkan kerohanian! Kenapa? Karena pada akhirnya kita melihat pada dosa kita, melihat pada diri kita dan tidak lagi melihat salib. Padahal sesungguhnya Tuhan tidak pernah kecewa karena kita. Kenapa? Karena dari semulanya, kita mengenal Tuhan karena Kristus, sehingga tidak ada alasan bagi Tuhan untuk kecewa lagi pada kita.

3. Sebuah perpalingan. Kalau sebelumnya aku menyeberang melewati salib, sekarang tergantung diriku. Sehingga kita masuk dalam kepercayaan : Salib + Prestasi.

4. Sadar atau tidak sadar, kerohanian ini sudah kembali menjadi Taurat. Karena itu gambaran orang Kristen yang ideal yang kita miliki, itu menjadi Taurat bagi kita. Apa sebenarnya fungsi Taurat?
- Menyatakan dosa.
- Memperkuat keinginan untuk berdosa.
- Selalu membuat kita merasa ada saja yang salah.
- Membuat kita mati dalam dosa kita.

Perubahan yang terjadi : dari yang memandang salib, sekarang jadi mencari cara agar bisa mengalahkan dosa.

Akan semakin parah lagi jikalau kekristenan siklus ini dialami mereka yang punya background patologi (gangguan jiwa). Ciri-cirinya :
- ia butuh didengar & dimengerti
- ia butuh diterima & dihargai
- ia butuh dikonfirmasi
- ia butuh perasaan dimiliki
- ia butuh dibutuhkan
- ia butuh disentuh

Kalau kebutuhan diterima dan dihargai ini tidak ia terima, akan menimbulkan rasa malu (keberadaanku salah, aku cacat). Dalam menjalani kehidupannya, kegagalan demi kegagalan membuat dia malah membenci diri sendiri. Ini yang menyebabkan dia jatuh dalam keputusasaan kerohanian. Dan orang yang memiliki background patologi ini sesungguhnya lebih membutuhkan motivator daripada pendeta, ia lebih menginginkan self-development, dan tidak memerlukan salib.

Sampai di sini kita mengupas tentang kehidupan kerohanian yang salah. Selanjutnya kita akan membahas bagaimana sebenarnya kehidupan kerohanian yang benar.

Sunday, June 5, 2011

Transforming Spirituality - sesi 5 - Living As A Son, NOT A Slave

Transforming Spirituality - sesi 4 - Uproar of Spiritual Journey

Baca Lukas 15:11-32

Cerita tentang perumpamaan anak yang hilang mungkin sudah sangat sering teman-teman baca atau dengar. Baik itu dari sisi anak bungsu, Bapa, maupun anak sulung. Namun pada kesempatan ini, mari kita membandingkan anak bungsu dan anak sulung.

Anak bungsu :
- kurang ajar. Ketika ia meminta warisan terlebih dulu, secara tidak langsung sebenarnya sudah seperti berkata : "Kamu ini tidak mati mati padahal umur dah tua. Karna aku ga sabar lagi, sini kemarikan harta bagianku."
- tapi jujur
- mau kebebasan
- jatuh begitu dalam
- sadar akan situasi dirinya dan sadar kalau hidup dengan Bapa lebih enak
- Bapa keluar dan anak bungsu mau masuk

Anak sulung :
- ada di rumah Bapa
- marah di rumah Bapa
- Bapa keluar, tetapi anak sulung tidak mau masuk.
- anak sulung ada dir umah Bapa, namun hidup sebagai seorang Kristen budak, bukan anak. ("...For years, I've been working like a slave...")

Maka pertanyaan untuk kita pribadi :
- Who are you? And where are you?
- Are you a son? Or are you a slave?

Jika engkau adalah anak bungsu, maka kembalilah pulang. Rumah Bapa lebih enak dari tempat manapun juga.

Jika engkau adalah anak sulung, maka berhentilah menjadi budak! Hidupilah hidupmu sebagai anak.

Seorang anak ketika akan bertemu Bapanya, pasti sangat senang. Lalu bagaimana engkau ketika akan bertemu Bapa?

Masalah sebenarnya sudah terjadi dari kita kecil. Orang tua mengajarkan yang tidak baik.
- kalau dapat nilai bagus atau dapat juara 1, nanti akan diberikan hadiah. Akhirnya si anak belajar seperti budak, demi mendapatkan hadiah.

Dan kebiasaan serta budaya budak ini sudah mempengaruhi juga kehidupan kerohanian.
- berdoa seperti budak. Karena sebelum tidur harus berdoa, akhirnya doa menjadi kewajiban dan isi doa terus-terusan sama setiap malamnya. Berdoa sebagai kewajiban = berdoa seperti budak.
- saat teduh dengan ngantuk dan terpaksa. Akhirnya tidak mendapatkan apa-apa karena melakukan saat teduh seperti budak, bukan anak. Seorang anak punya kerinduan pada Bapanya. Maka ketika saat teduh, doa, beribadah, dll, akan ada kerinduan yang begitu besar pada Bapa. Bapa mengasihi anak, dan anak mengasihi Bapa.

Pada sesi 3, ekspresi kerohanian terasa begitu berat. Penginjilan terasa begitu berat. Mengapa?
Ini juga dikarenakan hidup kerohanian yang dijalani seperti budak. Harus ini, harus itu, dan akhirnya dipandang sebagai suatu kewajiban dan akhirnya menjalani hidup seperti budak.

Jadi, apa yang engkau pilih?
Menjalani hidup sebagai anak, atau sebagai budak?

Transforming Spirituality - sesi 4 - Uproar of Spiritual Journey

Transforming Spirituality - sesi 3

Baca Markus 1:21-39

Kesibukan adalah hiruk pikuk dunia ini. Kesibukan sering membuat kita penuh dan secara teoritisnya memang seperti itu. Namun dalam perikop yang kita baca tadi, kesibukan Yesus tidak membuat Dia penuh.

Kenapa sih Yesus mau berganti tempat? Padahal toh Dia melakukan hal yang sama, dan mau tetap di Kapernaum ataupun di tempat yang lain, sama saja sibuknya.

Namun sesungguhnya kata "marilah kita pergi" adalah kata yang penting dalam ritem kesibukan. Ini adalah spirit dari menarik diri dari kesibukan.

Kalau sibuk, warning diri akan bahaya kesibukan yang membuat kita terikat dan terkungkung dalam kesibukan itu.

Kalimat yang sering dicetuskan oleh orang sibuk : "kalau ga ada aku, maka akan jadi berantakan."
Ketika kita pengen jadi orang penting, kita bakal terikat akan keisbukan itu dan itu adalah tindakan menghancurkan diri.

Menarik diri adalah tindakan melepas, dan ketika melepas, ada ketenangan. Tidak dikontrol waktu, tetapi dapat mengontrol waktu dan melepas kesibukan-kesibukan yang ada.

Kadang ketika pelayanan, kita sering mengharapkan nilai yang baik dari orang lain, baik itu jemaat ataupun teman sepelayanan. Akhirnya ketika persiapan, pengen semua jemaat menikmati pelayanan kita. Dan akhirnya pengen nyenengin jemaat. Pada akhirnya, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kita diikat oleh pelayanan itu.

Dan ketika kita mengevaluasi diri, itulah saat kita menarik diri dan melepas kesibukan tersebut.

Yesus sangat sibuk, namun Ia dapat menarik diri dan mengontrol kesibukan itu. Yesus bangun pagi-pagi dan berdoa, namun itu pastinya bukan satu-satunya cara. Di tengah kesibukanNya, Ia terus menarik diri sehingga Ia tahu apa yang sedang Ia lakukan.

Kalau kita bangun, lalu berdoa dan saat teduh tapi dengan rasa ngantuk dan terpaksa, sesungguhnya kita hanya sedang melakukan tindakan keagamaan dan pada akhirnya kita tidak menarik diri.
Tapi, menarik diri secara aktual (retreat, saat teduh, dsb) tetap perlu. Menarik diri yang tidak aktual adalah ketika hati kita tidak terikat pada kesibukan itu. Namun, tentunya hati seperti itu tidak gampang dimiliki. Oleh karena itu, kita perlu evaluasi diri.

Menarik diri harus diikuti juga dengan sikap menyerahkan diri. Menyerahkan diri bisa dengan doa, saat teduh, membaca buku rohani, mendengar khotbah, dsb. Namun pointnya bukan itu. Ketika berdoa, sadarlah kalau kita tidak sekedar doa, tetapi kita sedang menyerahkan diri ketika kita berdoa. Begitu juga ketika kita saat teduh, membaca buku rohani, mendengar khotbah, dsb.

Penyerahan diri ini adalah penyerahan untuk dibentuk dan diolah oleh Allah. Jangan sampai ketika kita pelayanan, tidak ada penyerahan untuk dibentuk dan diolah oleh Allah.

Mazmur 131
Pada ayat 1 kita bisa melihat bahwa Daud sedang menarik diri. Kalimat ini bukan berarti kita tidak perlu memikirkan bagaimana ada kemajuan yang besar dalam persekutuan, namun hati Daud yang rindu jangan sampai aku tinggi hati dan merasa hebat.
Di ayat 2, Daud menenangkan jiwa. Ketika Daud berkata seperti anak yang disapih maka keadaan dari anak itu begitu tenang. Ketenangan ini yang perlu ada dalam hidup kita.
Ditutup dengan ayat 3 : Berharap pada Allah selama-lamanya.

Ayat 1-2a Daud menarik diri, dan ayat 2b-3 Daud menyerahkan diri.

Di dalam perjalanan hidup kita, lika-liku hidup adalah bagian yang tidak bisa kita tolak. Namun, bagaimanakah engkau menjalani hidup?

Ketika menarik diri, kita akan sadar kalau kita tidak bisa apa-apa. Namun ketika kita menyerahkan diri, kita akan menikmati kekuatan dari Allah dalam perjalanan hidup.

Pertanyaan untuk refleksi dan evaluasi diri :
- Di dalam menjalani ritme kesibukan itu, bagaimanakah engkau hidup?
- Apa yang sebenarnya mengungkung hidupmu? Kuatir akan masa depan yang membuatmu terus-menerus merasa ada yang harus disiapkan? Atau perasaan berarti yang membuat engkau pengen jadi orang penting?

Transforming Spirituality - sesi 3

Transforming Spirituality - sesi 2

Baca Wahyu 2:1-4

Bisakah orang Kristen menjalani tingkah laku agama (ibadah, pelayanan, dsb) tanpa kerohanian?
Bisa. Pertama adalah orang yang mengalami kekosongan rohani, yang kedua adalah orang yang mengalami kematian rohani.

1. Kosong Rohani
Kebanyakan orang-orang yang mengalami kekosongan rohani adalah mereka yang lahir dari keluarga Kristen, yang diwariskan agama Kristen dan yang tidak mengalami pengalaman bersama Tuhan.

Perjumpaan bersama Kristus tidak bisa diwariskan, walau doktrin, ekspresi kerohanian, pengetahuan Kristen, moralitas Kristen bisa diwariskan. Karena tidak mengalami perjumpaan bersama Kristus, maka kekristenan dijalani dengan kekosongan rohani. Orang seperti ini tidak mampu menggambarkan siapa Tuhan bagi dia secara pribadi.

Banyak gereja yang akan mati/mundur jika tidak melakukan :
- shame and guilty
- fear
- iming-iming

Contohnya begini.
- Berikan perpuuluhan, maka akan mendapatkan berkat. (iming-iming)
- Kalau tidak persembahan, nanti akan mengalami masalah. (fear)
- Misal ada 1 cerita yang disampaikan di dalam khotbah.

Ada seorang yang punya uang 100 ribu. Waktu ia melihat ada seorang pengemis, dia begitu iba dan akhirnya dia memberikan 90 ribu miliknya ke pengemis itu. Pengemis itu tahu kalau si pemberi memiliki uang 100 ribu, sehingga masih ada sisa 10 ribu pada si pemberi. Si pengemis kemudian mencuri uang 10 ribu milik si pemberi itu.

Sampai di sana respon setiap pendengar pastinya kaget dengan sikap si pengemis yang tidak tahu terima kasih itu. Dan kemudian pemberitaan Firman dilanjutkan. Pengemis itu adalah engkau. (shame and guilty)

Mengapa gereja berubah menjadi seperti ini? Bagaimana sebenarnya respon yang bisa kita lihat di Alkitab?
Kembali ke cerita mengenai perempuan berdosa yang sudah saya bagikan di sesi ke 2. Ketika perempuan itu melakukan hal yang lebih dari budak, sebelumnya Tuhan tidak berkata ke perempuan itu : "Karena Aku sudah mengampuni kamu, maka kamu harus memberikanku minyak yang mahal".

Begitu juga dengan cerita Yakub. Jika teman-teman ingat tentang cerita Yakub, di Kejadian 28:20-22, Tuhan tidak menyuruh Yakub untuk ngelakuin ini dan itu, tapi Yakub sendiri yang bernazar dan pada akhirnya ia melakukan nazarnya itu : mengakui Allah, membuat mezbah dan melakukan perpuluhan.

Perempuan berdosa dan Yakub tidak disuruh atau diperintah oleh Tuhan, namun mereka berespon setelah mengalami Tuhan.

Contoh lain lagi berkaitan dengan 3 metode di atas adalah penginjilan. Di kitab Kisah Para Rasul, kita bisa melihat bahwa saksi adalah being, bukan doing.
Namun, ketika perjumpaan rohani tidak ada, penginjilan juga dilakukan dengan 3 metode tersebut.
- takut-takutin : kalau kamu pulang ke Surga dan ditanya berapa jiwa yang kau bawa, apa jawabmu?
- guilty : mengajak untuk menghitung dalam 1 tahun berapa orang mati? dibagi 12, jadi berapa orang mati dalam 1 bulan? dibagi lagi mpe 1 menit, berapa orang yang mati tanpa kenal Tuhan?
- iming-iming : mahkotamu akan berat ketika kamu banyak penginjilan.

Padahal penginjilan itu seharusnya karena dia sudah menikmati keindahan Allah, ia tidak tahan kalau tidak bercerita.

Akibat dari 3 metode di atas :
- Penginjilan jadi beban yang begitu berat
- Penginjilan menjadi hal yang sangat menakutkan
- Setelah penginjilan merasa lega, bukan karena mengasihi dan peduli akan keselamatan orang yang diinjili, tapi lebih karena terselamatkan dari guilty feeling.

Contoh lain lagi adalah tentang doa. Sebelum makan, harus berdoa. Kalau sudah makan 1 sendok, baru keingat belum berdoa, guilty feeling langsung muncul.

Pada akhirnya semua aktivitas keagamaan itu menjadi ritual yang kering.

Kemudian.. Berbicara tentang moral, bagaimana kondisi moral yang lahir dari rohani yang kosong?
Moral kristen tidak dirasa sebagai pelepasan, tetapi kekangan. Sehingga perkataan Yesus di Matius 11:38, beban tidak dilihat ringan, tetapi sangat berat. Ekspresi kerohanian bisa dilakukan tanpa kerohanian, tetapi menjadi beban yang sangat berat.

Oleh karena itu, perlu ada perjumpaan dengan Tuhan sehingga kerohanian tidak lagi kosong. Pertanyaan yang perlu anda tanyakan sebagai evaluasi terhadap diri :
Apakah ada perjumpaan dengan Tuhan yang pernah kau alami? Masih merasakan kehadiran-Nya kah?

Saturday, June 4, 2011

Transforming Spirituality - sesi 2

Transforming Spirituality - sesi 1

Baca Lukas 7:36-47. Cerita dalam perikop ini adalah tentang seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, yang membasuh kaki Tuhan Yesus.

Perhatikan ayat 47.
Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.

ia telah banyak berbuat kasih.
Kata banyak di ayat ini mengandung arti kwalitas dan kwantitas sama-sama banyak, padahal kalau kita hitung apa yang dilakukan perempuan ini, hanya 4 hal yang ia lakukan :
- ia membasahi kaki itu dengan air mata
- ia menyeka kaki itu dengan rambutnya
- ia mencium kaki itu
- ia meminyaki kaki itu dengan minyak wangi

Lalu mengapa yang 4 ini bisa disebut banyak?
Karena ia telah melakukan hal yang lebih dari budak, padahal ia bukan budak dan tidak ada yang memerintahnya.

- ia membasahi kaki itu dengan air mata, bukan dengan air biasa
- ia menyeka kaki itu dengan rambutnya --rambut yang dipandang sebagai mahkota bagi wanita-- , bukan dengan handuk
- ia meminyaki kaki itu dengan minyak wangi --minyak yang sudah sengaja disiapkan, minyak yang begitu mahal, yang seharusnya dipakai ketika akan menikah, minyak yang untuk mendapatkannya, paling tidak perlu proses 1 tahun--

Maka alasan ke-2 mengapa banyak, karena Yesus melihat prosesnya. Perempuan itu dikenal sebagai penzinah dan sangat berbahaya ketika ia ke rumah Simon, proses yang begitu besar yang telah ia lakukan.

Hal ke-3, perempuan itu memiliki hati yang menyembah. Segala yang ia lakukan berpusat pada kaki karena ia tahu betapa ia tidak layak. Apa yang ia miliki, ia sadar itu pun tidak layak dan hanya ia pusatkan pada kaki Yesus.

Mari kembali perhatikan ayat 47.
Sebab akibat pada ayat 47 dalam terjemahan indonesia : perempuan itu boleh beroleh pengampunan karena ia berbuat banyak kasih.

Maka pertanyaan yang muncul :
Apakah karena aksi perempuan itu maka Yesus bereaksi? Atau apakah karena aksi Yesus mengampuni perempuan itu maka perempuan itu berespon dengan reaksi mengasihi dengan perbuatan kasih yang banyak?

Kalau terjemahan indonesia benar, maka :
- Allah bereaksi ketika manusia berusaha menggapai Allah
- Ada timbal balik : kalau bisa bayar, kita dapt, berarti tidak ada pemberian yang gratis dari Allah dan kalau sudah bayar mahal tapi tidak mendapatkan sesuai dengan bayaran, maka perempuan itu berhak marah.
- Hubungan dengan Tuhan akan berkelas, tergantung dari apa yang manusia lakukan.

Namun, mari kita bandingkan dengan terjemahan NIV dan ESV.
NIV
"Therefore, I tell you, her many sins have been forgiven--for she loved much. But he who has been forgiven little loves little."

ESV
"Therefore I tell you, her sins, which are many, are forgiven—for she loved much. But he who is forgiven little, loves little.”

Kalau terjemahan NIV/ESV benar, maka 3 pemahaman di atas tidak berlaku. Yesus yang beraksi dan kita merespon dengan bereaksi. Sehingga Allah yang berinisiatif, bukan kita. Kenapa perempuan itu diampuni? Karena ia tidak dapat bayar, dan Yesus yang bayar. Dan mengapa perempuan itu melakukan tindakan seperti itu? Karena perempuan itu berespon.

Inilah anugerah.

Kalau begitu apakah anugerah dapat diambil?
Tidak bisa, karena itu adalah kemurahan hati dari pemberi!
Dan tanpa kerendahan hati, maka anugerah itu tidak akan mau diterima oleh orang itu. Anugerah tidak gampang diterima karena kita harus berjumpa dengan ketidakberdayaan kita.

ay 41-43
Berhutang 500 dinar dan berhutang 50 dinar, mana yang lebih banyak? Pastinya yang hutang 500. Orang yang punya hutang 500 punya perasaan dikasihi oleh pelepas hutang lebih besar daripada yang berhutang 50.
Sehingga.. makin orang itu berdosa, makin dekat ia dengan Tuhan.

3 alasan terjemahan NIV/ESV benar :
ay 42-43 : pelepasan hutang dulu baru mengasihi.
ay 47 : pengampunan dosa menggunakan perfect tense, sedangkan kasih menggunakan past tense.
ay 47 : orang yang banyak diampuni, banyak berbuat kasih.

Pengalaman mendapatkan pengampunan adalah kerohanian.
Respon setelah menerima pengampunan adalah aktivitas keagamaan.
Maka, pengalaman rohani bersama Tuhan harus mendahului daripada aktivitas keagamaan.
Spiritualitas harus mendahului tingkah laku dan kehidupan keagamaan kita.

Kita harus ingat hal tersebut karena begitu seringnya kita hanya terfokus pada aktivitas keagamaan dan tidak memperhatikan pengalaman yang harus terjadi sebelumnya.

Misal Efesus 4:32
Pengalaman rohani : diampuni oleh Allah
Aktivitas keagamaan : ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni.

Kita sering langsung terpaku pada nasehat ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni. Dan pengalaman rohani diampuni oleh Allah tidak diingat.

Ingat pengalamanmu diampuni oleh Allah. Dan pengalaman inilah yang membuat kita ingin berespon dengan ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni.

Masalahnya banyak di antara kita ini orang-orang Kristen legalistik, buktinya :
- milih-milih pendeta
- kalau ada orang kerasukan, ga berani ngusir karena takut kita yang dirasuki nantinya
- kalau ada masalah, marah dan kecewa pada Tuhan

Kenapa bisa begini?
Karena kita dari kecil diajari hubungan timbal balik.
Orang tua lebih sayang anak yang lebih pintar. Guru lebih sayang anak yang tidak nakal. Dari kecil sudah diajarin untuk melihat prestasi. We get what we pay.

Maka ketika kita diajari doktrin kristen, tidak ada aplikasi yang sesuai dengan doktrin itu.

Oleh karena itu, fondasi pertama :
Pengalaman bersama Tuhan harus mendahului hidup keagamaan.

Transforming Spirituality - sesi 1 - Reality of Spiritual Journey

Yesus datang ke dunia untuk menebus manusia, mengampuni, dan memberikan keselamatan pada kita. Namun apakah Yesus hanya datang ke dunia untuk hal tersebut?
Empat kitab Injil menguraikan kehidupan Kristus. Mengapa harus sampai empat? Apakah tidak cukup satu saja? Mengapa kitab Injil diuraikan secara panjang lebar?
Karena kitab Injil ingin merepresentasikan apa dan bagaimana hidup itu.

Ketika membicarakan mengenai kehidupan rohani, Yohanes 17:13-17 cukup merepresentasikannya.
Bunyi yang sama kita dapati dari ayat 14b dan ayat 16 : "... mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia."

Kita memang tidak bisa dilepaskan dari dunia karena kita sedang berada di dunia. Dunia seolah-olah menjadi sentral, akar, fondasi, menjadi segala-galanya. Namun menarik ketika Yesus berkata bahwa kita bukan dari dunia, walau kita lahir dan ada di dunia.

Yohanes 8:23 juga mencatat bahwa Yesus berkata pada orang-orang Yahudi yang tidak percaya Yesus bahwa : "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas. Kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini."
Di sini ada pengidentifikasian. Identifikasi tentang diri kita sesuai dengan identifikasi mengenai Kristus. Hidup dari debu dan kembali menjadi debu, inilah hidup di dunia. Tetapi hidup kita bukan dari debu menjadi debu, tetapi dari sorga menuju ke sorga, walau di dalamnya ada hidup dari debu menjadi debu.

Hidup dari debu menjadi debu adalah hidup yang bersifat materi dan duniawi. Ingat! Perjalanan kita bukan dari debu menjadi debu, tetapi perjalanan kita adalah dari atas kembali ke atas. Dari surga kembali ke surga. Dari Bapa dan kembali ke Bapa.

Pada yohanes 16:28 Yesus berkata :
- Aku datang dari Bapa
- Aku masuk ke dalam dunia
- Aku meninggalkan dunia
- Aku pergi kepada Bapa

Hidup kita juga adalah seperti itu. Kita datang dari Bapa, sedang masuk dalam dunia, pada akhirnya akan meninggalkan dunia dan kembali kepada Bapa.

Memang kita berada di dunia ini, namun perjalanan di dunia ini terlalu kecil. Kita memang ada di dunia, tetapi kita tidak menjadi milik dunia. Dan dalam perjalanan hidup di dunia ini, perlu ada intervensi dari Allah, sehingga hidup itu bernilai.

Perasaan kehampaan dari hidup dari debu menjadi debu adalah ketika kita bertanya : "mengapa aku hidup?"
Perasaan ini pastinya akan mendominasi karena kita hidup dari debu menuju pada debu.
Namun, titik kehampaan itu adalah titik awal dari perjalanan rohani. Dan dari titik ini kita menyadari bahwa hidupku tidak dari debu menuju ke debu dan Yesus menawarkan hidup dari atas menuju ke atas.

Kalau kita tahu dari mana dan menuju ke mana kita, kita akan tahu rute perjalanan kita. Perjalanan dunia ini tidak boleh sampai mengungkung dan mencekam hidup kita! Ingat! Statusmu adalah status sorgawi.

Maka pertanyaan evaluasi yang harus kita tanyakan : Rute manakah yang aku jalani selama ini? Dari surga menuju surga? Atau sedang terjebak dalam hidup dari debu menuju ke debu? Berapa waktu sudah kita habiskan dari debu menuju ke debu?
Apa yang menarik engkau dalam perjalanan rohanimu? Apa yang menguras energimu selama ini?



Next : Transforming Spirituality - sesi 2

Transforming Spirituality - the bride


Hari ini di dalam sesi terakhir retreat Transforming Spirituality yang aku ikuti, prosesi yang berbeda dijalankan ketika perjamuan kudus. Setelah Firman Tuhan disampaikan, Pendeta memberikan waktu bagi jemaat untuk berdoa. Setelah jemaat sudah siap, dan si jemaat tahu bahwa inilah waktunya bagi dia datang ke perjamuan itu, jemaat akan masuk ke dalam barisan, dan satu per satu di dalam barisan yang ada, berjalan ke meja perjamuan, dan kemudian menerima roti dan anggur.

Setelah aku berdoa dan aku tahu aku siap menerima perjamuan ini, aku masuk ke dalam barisan yang sudah ada. Inilah yang kurasakan...

Aku seperti mempelai wanita yang sedang berjalan ke arah Sang Mempelai Pria. Langkah demi langkah dipenuhi hati yang semakin berdebar, hati yang tersenyum dan penuh syukur. Dan ketika aku sampai di meja perjamuan itu, aku mengambil roti dan anggur, dan kemudian kembali mengucap syukur.

Inilah saatnya.

Aku siap untuk menyatu dalam persekutuanku dengan Kristus.
Perjamuan cinta dari-Nya yang Ia sediakan bagiku.
Perjamuan cinta dimana Ia menunjukkan betapa besar kasih-Nya padaku.
Betapa indahnya perjamuan kasih ini.

"Aku memang berdosa, ya Tuhan. Namun biarkanlah aku menerima kasih-Mu sehingga hidupku dipenuhi dengan kasih-Mu. Dan dengan kasih itu, aku dikuatkan. Dan karena kasih itu, maka aku bisa mengasihi-Mu, ya Tuhanku."

Transforming Spirituality - alive

Beberapa minggu yang lalu di dalam satu training tentang menulis, aku diminta menulis tulisan yang menggambarkan aku itu seperti atau aku itu bagaikan apa..
Saat itu aku sungguh tidak bisa menulis apa pun. Di dalam waktu yang singkat aku berusaha berpikir dan tidak ada yang bisa aku tuliskan. Bukan karena aku tidak tahu karakterku, namun karena aku tidak tahu bagaimana menggambarkan tentang aku.

Namun dalam retreat Transforming Spirituality ini, aku ingin menulis banyak sekali tentang seperti apakah aku itu, dan tentang bagaikan apa aku itu..

Aku bagaikan domba yang selangkah lagi akan jatuh dalam lembah kekelaman. Aku ini seperti zombie (mayat hidup). Aku ini seperti seorang yang sedang digerogoti bagian dalam tubuhnya, namun di luar terlihat sehat-sehat saja. Aku sudah hampir mati...

NAMUN

Dia, Tuhanku, tidak membiarkanku. Gembalaku menarik aku sehingga aku tidak terjatuh dalam lembah kekelaman itu. Sang Terang itu menunjukkan terang-Nya di tengah kegelapan yang aku rasakan. Dan tiada kata yang bisa mengekspresikan betapa aku bersyukur dan berterima kasih karena Dia mau berbelas kasihan padaku...

Aku hampir mati, NAMUN aku menerima belas kasihan dari Tuhanku.
Dan inilah yang kurasakan : ALIVE
Aku bagaikan seorang yang baru hidup kembali ...

Aku seperti hampir mati tenggelam,
NAMUN
Ia menyelamatkanku dan memberikanku kesempatan untuk sekali lagi menghirup udara kehidupan.

Betapa besar belas kasihan yang aku terima.
Betapa besar kasih karunia yang aku terima.
Betapa besar kasih-Nya bagiku...

Hati ini penuh ucapan syukur ketika belas kasihan ini boleh kuterima..
Terima kasih ya, Tuhan...

Thursday, May 5, 2011

Jesus, What A Friend For Sinners

Jesus, what a friend for sinners adalah judul lagu, merupakan salah satu lagu hymn yang ditulis oleh J. Wilbur Chapman. Malam ini lagu ini sungguh sangat berkesan.

Jesus! what a Friend for sinners!
Jesus! Lover of my soul;
Friends may fail me, foes assail me,
He, my Savior, makes me whole.

Refrain
Hallelujah! what a Savior!
Hallelujah! what a Friend!
Saving, helping, keeping, loving,
He is with me to the end.

Jesus! what a Strength in weakness!
Let me hide myself in Him.
Tempted, tried, and sometimes failing,
He, my Strength, my victory wins.

Jesus! what a Help in sorrow!
While the billows over me roll,
Even when my heart is breaking,
He, my Comfort, helps my soul.

Jesus! what a Guide and Keeper!
While the tempest still is high,
Storms about me, night overtakes me,
He, my Pilot, hears my cry.

Jesus! I do now receive Him,
[or Jesus! I do now adore Him,]
More than all in Him I find.
He hath granted me forgiveness,
I am His, and He is mine.

Aku ini pendosa besar, namun Ia masih mau menjadi sahabatku.
Teman-temanku bergantian mengecewakanku, namun Ia tidak pernah mengecewakanku.
Dicobai, diuji, dan sering jatuh, namun karena Ia adalah kekuatanku, maka aku bisa menang..

Hallelujah! what a Savior!
Hallelujah! what a Friend!
Saving, helping, keeping, loving,
He is with me to the end.

Aku adalah milikNya dan Dia adalah milikku..

Ketika merasa tidak ada lagi seorang pun, ingatlah Dia masih ada.
Ketika berulang kali jatuh dalam dosa, bangkitlah dan lihatlah tanganNya yang sudah terulur untuk menolongmu.
Ketika banyak hal yang tidak pasti, pergumulan-pergumulan itu berdatangan, tetaplah kuat dan tetaplah berharap padaNya.
Dia mendengar seruan tangisku..

Terima kasih, Tuhan, untuk Engkau yang masih mau jadi sahabatku..

Saturday, April 30, 2011

Kelompok Kecilku - Bab 6 KTK - Mari Bertumbuh Bersama :)

Efesus 4:1-16

Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus kepada orang-orang kudus di Efesus. Di bagian awal surat ini, dapat kita lihat bahwa Paulus memberikan beberapa doktrin mengenai keselamatan, dan pada bagian pasal 4 ayat yang pertama ini, Paulus mulai bertolak kepada aplikasi-aplikasi dari apa yang telah dia jelaskan sebelumnya.

Oleh karena itu di 4:1 ini Paulus memberikan nasihat kepada orang-orang kudus di Efesus ini untuk hidup berpadanan dengan panggilan, yaitu ketika mereka ini telah diselamatkan. Caranya adalah :
- Rendah hati
- Lemah lembut
- Sabar
- dan menunjukkan kasih kepada sesama dalam hal saling membantu.

Seorang kristen harus belajar untuk rendah hati, lemah lembut, sabar dan saling membantu dengan sesama di dalam kasih. Tiadalah gunanya kalau ia kelihatan begitu rohani, namun ia penuh dengan kesombongan, kekasaran, kemarahan, dan ketidakpedulian.

Melanjutkan nasihat Paulus... Cara berikutnya adalah dengan berusaha memelihara kesatuan Roh. Sungguh sangat bersyukur jikalau kita ini bukanlah orang-orang yang perlu menciptakan atau membentuk kesatuan. Kesatuan itu sudah dianugerahkan, dan tugas kita adalah memelihara kesatuan itu. Dengan demikian, ketika kita berdoa, marilah berdoa bukan agar Tuhan memberikan kesatuan, namun agar Tuhan mampukan kita memelihara kesatuan itu.

Tetapi kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus.

Kita satu, namun kita telah dianugerahkan karunia yang berbeda-beda. Namun, tetap saja, sumbernya sama, yaitu Kristus. Oleh karena itu, mari belajar untuk tidak iri hati dan jangan tinggi hati.
Jangan sombong jikalau punya kemampuan lebih, tapi sadarilah tanggung jawab ketika dianugerahkan lebih.
Jangan iri pada orang lain yang memiliki kemampuan lebih, tapi bersyukurlah karena Allah boleh pakai orang itu untuk mengerjakan kehendak-Nya. Dan belajarlah untuk melihat bahwa orang tersebut adalah karya daripada Allah sendiri, sehingga marilah memuliakan Dia ketika kita melihat orang-orang yang Tuhan anugerahkan kemampuan yang lebih.

Mengapa karunia itu harus berbeda-beda? Dan mengapa karunia itu perlu digunakan?
Lihatlah jawabannya di ayat 12-13.
"untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus"

Pelayan-pelayan Tuhan berikan agar kita semua (baik pelayan maupun yang dilayani) bisa semakin bertumbuh, dan tujuan akhir pertumbuhan itu adalah sesuai dengan kepenuhan Kristus, atau istilah sederhananya : serupa dengan Kristus.

Kita dipanggil untuk melayani agar kita dan orang-orang yang kita layani boleh sama-sama bertumbuh, sama-sama belajar untuk semakin dewasa, dan semakin serupa dengan Kristus. Pertumbuhan janganlah dinikmati seorang diri, namun pertumbuhan ini marilah kita jalani bersama-sama, dengan tidak saling menuntut, tapi saling membantu.
Dan hati-hatilah... Jangan sampai salah arah dan tujuan. Tujuan yang jelas telah diberikan, maka janganlah lari daripada tujuan ini.

Jangan lupa juga bersyukur. Bersyukur untuk orang-orang yang Tuhan berikan untuk melayani kita. Mereka yang Tuhan berikan untuk menyampaikan Firman, mereka yang Tuhan berikan untuk memimpin ibadah, mereka yang Tuhan berikan untuk memberikan sambutan hangat, mereka yang Tuhan berikan untuk mengoperasikan multimedia, mereka yang Tuhan berikan untuk mengerjakan pelayanan-pelayanan ini...
Bersyukurlah karena Tuhan berikan orang-orang ini, sehingga kita pun bisa semakin bertumbuh.

Kalau dibalik... Tuhan ingin kita bertumbuh makin serupa dengan Kristus, oleh karena itu Dia berikan orang-orang untuk melayani kita dan menolong kita untuk bertumbuh.
Sudah terlihatkah perbedaannya? :p
Tuhan yang berinisiatif. Tuhan yang sudah merencanakan semua ini. Tuhan yang telah memilih orang-orang yang Dia ingin pakai. Tuhan yang telah memberikan karunia sehingga orang-orang itu bisa melayani kita.
Kurang baik apa kah Tuhan kita? ;)

Marilah bersama kita bertumbuh..
Ketika menuliskan semua ini, aku sangat sangat sangat menyadari... bahwa aku juga belum seperti apa yang seharusnya..
Namun, sekali lagi.. Marilah bersama kita bertumbuh. ^^

Monday, April 18, 2011

tick... tock...

Waktu terus berjalan dan waktu terasa semakin sedikit ketika event terakhir yang dapat kuikuti selama menjadi pengurus di PO Binus telah terlewati kemarin...
Berbagai macam perasaan bercampur dalam waktu yang tersisa ini. Ada perasaan sedih, kehilangan, takut, gentar, juga kecewa..
Waktu 4 tahun berlalu dengan begitu cepat, benar-benar tidak terasa.. Sudah ada banyak perubahan yang aku alami, dan perubahan-perubahan ini benar-benar membuatku takut..

Ada orang-orang yang berharga yang Tuhan tempatkan dalam hidupku selama 4 tahun ini, namun aku harus mengalami perpisahan. Pernah aku pun bertanya pada Tuhan.. mengapa aku harus bertemu dengan mereka, jikalau pada akhirnya aku harus berpisah dengan semua yang berharga ini.. Namun di sinilah aku belajar mengerti.. Mereka ditempatkan untuk membentukku.. Mereka ditempatkan juga untuk mengajarkanku bahwa aku tidak boleh menjadikan mereka berhala.. Aku tidak boleh menjadikan mereka lebih utama daripada Kristus..

Tantangan ke depan bukan sesuatu yang mudah, begitu sulit rasanya, dan begitu berat.. Bukan karena kesibukan atau tekanan, namun karena ketakutan-ketakutanku yang membuat tantangan ini semakin berat.
Ada banyak harapan, perencanaan yang ingin kukerjakan, yang berlawanan dengan apa yang harus aku kerjakan ke depan. Berat.. namun tetap belajar untuk menjadikan kehendak Tuhan lebih utama daripada kehendak diri.

Susah sekali menjadi murid Kristus...
Di tengah dunia, lingkungan sekitar, bahkan orang-orang terdekat yang melihat kesuksesan dari fisik, aku sangat takut ketika harus bertahan melawannya..
Ada perasaan gentar dan takut mengecewakan keinginan orang-orang terdekat..
Namun inilah tantangan untuk seorang murid...
Bukan mementingkan kehendak diri ataupun kehendak orang-orang terdekat, namun kehendak Tuhan..

Waktu 4 tahun ini terasa cepat berlalu, dan waktu-waktu ke depan juga akan terasa semakin cepat berlalu...
Perasaan gentar dan takut mungkin ada, namun ada pengharapan ketika pandangan ini tidak pada tahun-tahun ke depan ketika aku di dunia.. namun pengharapan ada pada waktu yang kekal, yang tidak terbatas itu..
Ada satu sukacita.. karena walaupun sulit, namun waktu untuk kesulitan itu benar-benar hanya sebentar saja.. biarlah aku terus bertahan dengan tetap berharap pada waktu yang kekal itu...

There is a place, high in my mind,
where lofty thoughts, ideals fly high.
But in that place, Lord You must reign,
and I must cease to think I’m wise.

There is a place, locked in my will,
where I would move as I would choose.
But in that place, Lord You must reign,
and I must loose my will for Thine.

There is a place hid in my heart,
where secret dreams and hope I guard.
But in that place, Lord You must reign,
and I must lay them down to die.

There was a place, cold burial ground,
where all my sins and grieves were bound.
But from that place Lord You were raised,
now I in You through death shall reign.

There’ll be a place, O glorious day,
where pain and death be done away,
and in that place Lord You must reign,
and we shall sing Thee ceaseless praise.

Sunday, April 17, 2011

unity

2 hari ini Tuhan mengajarkan aku banyak hal. Namun ada 1 hal yang berkesan dan yang sangat kunikmati. Tema yang sama dalam 2 hari ini, yaitu tentang kesatuan.

Kemarin diajak untuk belajar 1 lagu ketika seminar tentang ibadah, yaitu "Let Us Be One Voice" (link : http://www.youtube.com/watch?v=qstoTP_dZ8E atau http://www.youtube.com/watch?v=PrQlBuV0WkU)

Let us be one voice that glorifies Your name
Let us be one voice declaring that You reign
Let us be one voice in love and harmony
And we pray O God, grant us unity

Dalam lagu ini ada doa agar Tuhan boleh menyatukan kami, untuk memuliakan Allah dan menyatakan kerajaanNya. Lagu yang indah..

Persekutuan bukan terdiri dari 1 orang, tapi lebih dari 1 orang, dengan begitu banyak perbedaan, baik karakter, cara berpikir, dsb. Sangat sulit untuk punya kesatuan di tengah segala perbedaan yang dimiliki, dan inilah yang menjadi doa, yaitu berikanlah kesatuan di antara kami ya, Tuhan.

Hari ini kembali menikmati satu alur ibadah yang ditutup dengan 1 lagu, yaitu "Satukan dan Perlengkapi Kami".

Satukan kami dan perlengkapi membangun k'rajaanMu
Agar tak goyah s'gala perjuangan meski badai k'ras mend'ru
Satukan kami dan perlengkapi hidup melayaniMu
Berp'rang, berjuang, dengan hati teguh
Hidup demi kasihMu, Kristus

Menikmati ketika lagu ini pun menjadi doa bersama, yaitu satukanlah kami ya Tuhan dalam mengerjakan pelayanan-pelayanan yang Kau percayakan.

Tema yang begitu indah, yang perlu bersama kita pikirkan dan doakan. Kiranya kita bukan "mengharapkan/mengusahakan" perpecahan, namun kesatuan. Walau berbeda, namun belajar bersabar menolong yang lemah, belajar menerima perbedaan satu sama lain, dan sama-sama belajar untuk saling mengasah karakter satu sama lain, dan sama-sama menikmati pembentukan Tuhan untuk kita secara pribadi melalui keberadaan orang lain.

And we pray O God, grant us unity

Wednesday, April 13, 2011

God have blessed us

Ada saat-saatnya aku ingin keluar dari tempat ini. Seperti yang sering kuucapkan ke orang lain, "makin kamu terjun ke dalamnya, makin kamu menemukan kejelekan-kejelekan di dalamnya".
Perkataan ini pastinya sudah kurasakan dan sedang kurasakan dan masih akan kurasakan.

Namun... di saat seperti itu, Tuhan membuatku lagi-lagi semakin terkagum-kagum padaNya.. Semakin aku terjun ke dalamnya, semakin aku melihat dan menemukan kejelekan-kejelekannya, dan semakin juga aku melihat betapa Tuhan sudah menyertai hingga saat ini..

Orang-orang ini bukan orang sakti, namun orang-orang yang penuh dengan kelemahan dan keterbatasan.
Orang-orang ini memiliki banyak perbedaan satu sama lain.
Orang-orang di dalamnya harus mau mengikis karakter yang sudah ia punya bertahun-tahun, jika mau tetap menikmati ada di tempat ini.
Orang-orang ini tidak dibayar, namun orang-orang ini tetap saja mau terjun semakin dalam...

Bukankah itu buktinya "God have blessed us"?

Semakin terjun ke dalamnya, aku pun semakin menikmati : "bersyukur karena kasihNya, Tuhan pertemukan dan satukan kita"

Karena Tuhan lah, maka orang-orang ini bisa bertahan, bisa menikmati pembentukan-pembentukan di dalamnya, dan juga bisa menikmati bertemu dengan orang-orang yang berbeda dengannya.

Terima kasih, Tuhan untuk berkat dan penyertaanMu hingga saat ini.

Wednesday, April 6, 2011

grace and love

Ada 3 lagu yang sedang kunikmati. Dan ternyata ketiganya berbicara tentang anugerah dan kasih Allah. Berikut ini ketiga lagu tersebut. Selamat menikmati.. :)

How Deep The Father's Love For Us


Your Grace Still Amazes Me


Great Is Your Faithfulness

Sunday, April 3, 2011

murid [completed]

ternyata pemahamanku tentang murid tidak boleh sampai di sana saja.. karna buktinya hari ini Dia menjawab pertanyaanku.
simple.. ayat yang sudah sering juga kubaca.. ayat yang begitu romantis rasanya.. namun ternyata jawaban ada di dalamnya..

"Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." ~ 1 Korintus 13:3

Jika seorang tidak memiliki kasih, tidak ada gunanya dia menyangkal diri dan (seolah-olah) memikul salib.
Tak ada artinya jerih lelahmu kalau tidak ada kasih di dalamnya.

Seorang murid Kristus yang sejati menyangkal dirinya, memikul salib, dan mengikut Tuhan, karena ia mengasihi Tuhan.

Apakah engkau murid Kristus yang sejati?

Friday, April 1, 2011

murid

"Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku." Lukas 14:26

Setelah direnungkan kembali, biasanya ayat di atas seringnya diliat penekanan di depan saja.. padahal ada kata bahkan di bagian belakangnya..
Dan kalau dibalik, maka bisa menjadi seperti ini :

Seseorang tidak dapat menjadi murid Kristus jika tidak membenci bahkan nyawanya sendiri.

Renungkan dan evaluasilah. Apakah engkau murid Kristus yang sejati?

Saturday, February 5, 2011

Hai Pemalas!

Hari ini mengikuti Persekutuan Sabtu dan mendapatkan teguran keras dari Tuhan. Aku seorang yang malas, dan aku akui itu. Aku juga seorang yang senang menunda-nunda. Hari ini ditegur keras oleh Tuhan.

Amsal 6:9-11
Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu?
"Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" --
maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Amsal 24:30-34
Aku melalui ladang seorang pemalas dan kebun anggur orang yang tidak berakal budi. Lihatlah, semua itu ditumbuhi onak, tanahnya tertutup dengan jeruju, dan temboknya sudah roboh.
Aku memandangnya, aku memperhatikannya, aku melihatnya dan menarik suatu pelajaran.
"Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring."
maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.

Seorang pemalas di kitab Amsal merupakan sebutan yang sama bagi pendusta, seorang yang tidak sabar (pemarah), yang tidak bisa mengendalikan lidahnya, seorang yang penuh dengan keinginan bernafsu, seorang yang tidak berakal budi. Dan pemalas itu adalah sebutan lain bagi orang yang tidak takut akan Tuhan.

Amsal 24:30-34 menuliskan bahwa orang ini punya harta yang banyak, tetapi ia malas, maka tanahnya tertutup dengan jeruju, semua ditumbuhi onak, dan temboknya roboh. Ini menunjukkan bahwa karena ia malas, maka semuanya diambil dari padanya.

Betapa berdosanya seorang pemalas, karena ia tidak takut akan Tuhan, tidak sadar akan betapa besar anugerah yang telah dipercayakan, dan aku sangat ditegur dan hari ini benar-benar malu di hadapan-Nya.

Adalah anugerah yang begitu besar jikalau aku boleh berkuliah, namun aku tidak menggunakan kesempatan dengan baik, sehingga tidak terlalu banyak mata kuliah yang boleh aku kuasai untuk aku gunakan nantinya.

Namun aku bersyukur hari ini boleh ditampar oleh-Nya melalui Firman-Nya. Komitmen yang aku ambil adalah aku harus berubah, harus lebih mempertanggung jawabkan hidupku di hadapan-Nya. Belajar setia dalam perkara-perkara yang kecil, sebelum nantinya Ia mempertanggungjawabkan perkara-perkara yang besar.

Terima kasih Tuhan untuk Firman-Mu pada hari ini.

Wednesday, February 2, 2011

count the blessings (during the thesis)

Puji Tuhan!!!! Akhirnya selesai juga skripsi ini. ^^
Postingan kali ini bertujuan untuk menghitung berkat yang Allah berikan selama aku mengerjakan skripsi.

Ada banyak hal yang patut aku syukuri setiap harinya, namun ada special blessings yang aku terima ketika aku mengerjakan skripsi. Dan aku ingin menuliskannya untuk juga mengingatkanku. :D

Awal skripsi ini dimulai dengan belum mendapatkan perusahaan. Alhasil ya, skripsi ini menjadi telat beberapa minggu untuk start-nya.. :p
Namun akhirnya berkat pimpinan Allah, boleh dapet tempat untuk skripsi. Tempat yang seharusnya tidak menerima skripsi, tetapi akhirnya aku bisa skripsi di sana. Ini special blessing yang pertama. ^^

Selama mencari perusahaan, aku berpikir sendiri dan tidak mendoakan satu hal.. (karena aku tahu ini cukup egois..) Aku berpikir dan pengennya ngerjain skripsi yang bukan data warehouse, bukan data mining, dan kawan2nya.. Aku tidak berniat bermain-main dengan ERD, DFD, normalisasi, dsb... Dan ternyata perusahaan yang akhirnya aku dapatkan ini menawarkan skripsi yang memang bukan bagian hal yang tidak kusukai.. melainkan hal yang baru dan hal yang menarik bagiku.. Dan bagiku ini special blessing yang ke-2. ^^

Alhasil.. yang harus aku dan 1 temanku kerjain adalah mempelajari tentang Oracle GoldenGate. Suatu software yang cukup baru, dan yang dikerjakan adalah migrasi dari MySQL ke Oracle.. Maka.. aku pun mulai mempelajari tentang software itu.. Dan tiba2.. di bulan Oktober pertengahan gitu... tiba2 aku menemukan bahwa software ini, yang versi 10 ini, belum bisa melakukan migrasi dari MySQL ke Oracle.. Sedangkan aku sudah memastikan ke dosen n ke orang kantor klo itu bisa.. Ga teliti sih... :p
Alhasil hari itu stress.. Aku ingat waktu itu hari kamis dan aku lagi di kantor. Walaupun harusnya oracle goldengate versi 11 yang dapat melakukan migrasi dari MySQL ke Oracle ini sudah keluar di bulan oktober itu, namun nyatanya hari itu belum keluar dan tidak ada kejelasan kapan baru di-publish. Siang itu aku mengecek berulang kali software untuk migrasi dari MySQL ke Oracle, namun memang belum keluar.. Kemudian karena tiba2 jadi down dan cape, akhirnya izin pulang cepat.. Setelah sampai kos di sore hari, aku cek lagi berulang kali apakah software tersebut sudah keluar atau belum, dan hasilnya juga masih belum... Saat itu aku sangat hopeless.. Tetapi berdoa.. Jikalau Tuhan berkehendak, maka oracle goldengate untuk source database mysql ini bisa segera muncul.
Malam setelah rapat, aku pulang dan akhirnya dengan penuh pengharapan meminta agar Allah melakukan mukjizat.. bahwa software yang aku perlukan bisa di-publish, dan kemudian aku kembali mengecek... ternyata.. tiba2 software yang tadinya belum ada jadi ada... Wow!! Ini adalah kejutan besar bagiku.. ^^
Dan inilah special blessing yang ke-3 ^^

Ada 1 waktu dimana aku begitu suram. Aku merasa hopeless dan sangat letih. Itu adalah tanggal 23 Desember 2010 yang lalu. Malam sebelumnya aku tertidur dengan tubuh yang sangat lelah dan hari itu harus ke kantor, dan tambahannya lagi aku telat bangun. Akhirnya berpikir bakal telat, bakal ngantri panjang dan hari itu aku tidak yakin bisa melewati hari dengan baik karena keletihan yang masih tersisa. Namun pagi itu Tuhan menghiburku. Sesampainya di busway jelambar, itu adalah waktu yang pas, aku tidak mengantri bahkan langsung masuk ke busway itu. Dan di bus tersebut, tidak seperti biasanya, aku bisa berdiri tanpa didesak-desak. Alhasil aku tidak telat deh sampai kantor. Ketika tiba waktunya pulang, aku sengaja tetap di kantor dulu dan mengerjakan sisa-sisa hal yang belum terselesaikan. Dan ketika melangkah lagi menuju busway, tanpa mengantri, aku langsung mendapatkan busway arah kalideres dan aku dapet tempat untuk duduk. Hari itu di tengah segala keletihanku, Ia mengingatkanku bahwa Ia peduli, Ia mau aku mengerjakan skripsi ini bersama-Nya. Bagiku ini special blessing yang ke-4.

Tanggal 31 Desember 2010 aku mengerjakan skripsi hingga lebih dari jam 12 pagi. Artinya aku tidak memiliki waktu untuk berdiam. Aku tidak tertarik sedikit pun untuk melihat kembang api. Dan hari itu lagi-lagi menjadi hari yang begitu suram bagiku. Tanggal 1 Januari 2011 berlalu dengan begitu saja, walau di hari itu aku sempat mengambil nafas sejenak. Namun tetap saja kesuraman itu tidak terobati. Hingga akhirnya di tanggal 2 Januari, dengan segala alur yang Ia ciptakan untukku pada hari itu, aku menikmati waktu untuk berdiam, waktu untuk tidak lagi menanggung beban sendiri, tetapi bersama-Nya. Aku menuliskan alur hidupku di hari itu di postingan "awal transformasi". Dan inilah special blessing yang ke-5.

Tanggal 4 januari 2011.. Tiba saatnya untuk melakukan demo program dan program ini kaga jalan jalan... Aku tidak tidur di malam sebelumnya, mengerjakan bab 4 di tengah malam dan akhirnya mengerjakan sampai pagi. Sekitar jam 7.30, ada waktu 30 menit untuk aku istirahat sebentar dan membiarkan program yang masih belum jalan itu. Ada 2 pilihan, dengan hati yang dingin membiarkan Allah dipermalukan, atau pilihan ke-2, aku tinggalkan waktu istirahat yang 30 menit itu dan coba lagi cari tahu apa masalah dari program yang tidak jalan itu. Akhirnya Tuhan gerakin aku untuk lakuin pilihan yang ke-2. Alhasil... dengan coba-coba dan iseng-iseng, sekitar jam 8 aku memecahkan masalah yang berhari-hari tidak dapat kuselesaikan. Tentunya sebelum melakukan coba-coba dan iseng-iseng itu aku berdoa dengan agak iseng juga memohon mujizat agar program itu jalan.. Dan ternyata Ia menjawabnya.. Masalah yang sangat kecil, bahkan program itu sebenarnya sudah jalan.. Namun akhirnya di saat-saat terakhir Ia menolongku untuk mengetahui masalahnya. Betapa girangnya hatiku saat itu.. :p
Let me count this as the 6th special blessing during my thesis.

Dengan anugerah-Nya akhirnya aku dan temanku sanggup mengumpulkan skripsi kami. Di hari pengumpulan itu, beberapa hal terjadi dan Tuhan kasi jalan keluarnya. ^^
Akhirnya skripsi tersebut terkumpulkan, dan tadinya aku dan temanku berencana bersantai sejenak malam itu. Eh ternyata, jadwal sidang keluar dan itu adalah 8 hari kemudian. Akhirnya malam itu ditutup dengan kekagetan. Hahahaha...
Dan akhirnya tibalah h-1 sebelum disidang. Malam itu aku bergumul dan berdoa pada-Nya. Kira-kira seperti ini percakapanku dengan-Nya.
"Tuhan, aku tahu segala kelemahan skripsiku dan besok aku akan disidang. Ada 2 pengenalanku akan Engkau. Yang pertama, Engkau tahu skripsi ini masih belum maksimal, maka mungkin besok aku akan dapat C atau bahkan tidak lulus. Maka aku tahu bahwa Engkau ingin mengajariku untuk melakukan yang terbaik dan aku harus siap untuk itu. Namun ada pengenalan yang kedua yang aku juga masih ragu untuk mengimaninya. Engkau terlebih rindu kalau aku memuliakan Engkau, maka besok aku akan tetap melakukan yang terbaik agar Engkau dipermuliakan. Dan Engkau yang akan mengerjakan hal setelahnya. Engkau tahu perjuanganku hingga saat ini, dan Engkau ingin aku memuliakan Engkau, maka aku tahu bahwa Engkau akan memberikan nilai A. Jikalau aku bisa mendapat nilai A, maka aku tahu bahwa Engkau akan lebih dipermuliakan. Dan dengan segala kerendahan hati, saat ini aku memilih untuk beriman akan pengenalan yang kedua. Besok bagianku adalah melakukan yang terbaik, dan Engkaulah yang akan melakukan bagian-Mu."

Akhirnya aku tenang setelah waktu pergumulan itu. Namun ternyata hingga pagi, walau aku tidak tegang dan tidak takut disidang, aku tidak bisa tidur hingga pagi. Alhasil.... aku ngantuk berat di pagi itu. Namun aku tetap berdoa agar Tuhan mampukan aku untuk bisa konsentrasi..
Singkat cerita, hari itu aku disidang oleh 2 dosen yang dianggap gampang oleh orang lain. Namun aku sangat tidak senang akan hal itu (hal menggampangkan dosen). Sambil menunggu waktu sidangku, aku lagi-lagi bergumul dalam hati dengan-Nya.
"Tuhan, ini 2 orang dosen database, tidak ngerti Oracle. Ada 2 kemungkinan lagi.. Dosen ini bakal menganggap skripsiku gampang, atau dosen ini mau mengerti apa yang aku kerjakan dalam skripsi ini. Aku takut karena aku tidak tahu yang mana, namun aku berharap yang ke-2. Selain itu, mampukan aku ya Tuhan, untuk tidak melihat gampang ke-2 dosen tersebut. Namun, tolong aku tetap melakukan yang terbaik."
Maka hari itu aku dikuatkan untuk melakukan yang terbaik yang bisa aku lakukan. Aku menikmati bagaimana Ia memberikanku hikmat ketika harus cut presentasi dari 15 menit ke 10 menit. Dan aku menikmati bagaimana Ia memampukan aku untuk bisa menjawab pertanyaan yang ada. Dan akhirnya aku dan semua teman-temanku diberikan nilai A.
Special blessing yang terakhir bukanlah nilai A... Tetapi sesungguhnya special blessing yang terakhir ini, yang paling aku nikmati di tengah special blessing yang lainnya.. adalah aku diberikan pegenanalan yang lebih akan Dia, tentang Dia. Aku bersyukur untuk hadiah pengenalan ini.. Inilah special blessing yang ke-7.

Sesungguhnya ada lagi special blessing yang lain, namun tidak hanya ketika aku mengerjakan skripsi.. Aku bersyukur untuk orang-orang yang Tuhan boleh berikan.. teman-teman yang mendoakanku, mereka yang membantuku selama skripsi, mereka yang menguatkanku, dan mereka yang menyemangatiku. Mereka ini adalah special blessing yang kunikmati selama aku kuliah. And i really thank God for them...

Inilah special blessings yang bisa aku tuliskan. Special blessings yang aku terima dari-Nya. Banyak yang Ia ajarkan padaku selama skripsi ini, dan kiranya ini menjadi batu peringatan bagiku dan bagi engkau yang sedang membaca. Bahwa Ia pasti menyertai, bagaimanapun kondisinya.

Thank you, Dear Lord...

Saturday, January 15, 2011

hmm ....

wanna help you, but can't ...
wanna comfort you, but still not enough ...
wanna spend time with you, but don't have time ...

u are stress, and i confuse ...
u feel being a fool although i said that you are too kind ...

i'm speechless ...

sorry not to be a good friend ...

hope u get well soon ...

and sleep tight ...

Sunday, January 9, 2011

day by day

sudah berapakah umurku?
sudah berapa lamakah aku percaya pada Tuhan?

tahun lalu, dan tahun ini, apakah kualitas hidupku sama-sama aja? atau justru makin buruk?

ketika merenungkan pertanyaan ini, aku pun tersentak.

cukupkah dengan pengenalan seperti ini saja?
cukupkah dengan waktu saat teduh seperti ini saja?
cukupkah dengan kualitas saat teduh seperti ini saja?
cukupkah dengan isi dan kualitas doa yang itu itu saja?
cukupkah dengan kualitas PA yang seperti ini saja?

kalau buat kuliah, buat study, buat ilmu, buat hobby, aku mau sediain waktu lebih n mau memakai otak sedemikian rupa, kenapa kalau sudah mengaitkan untuk Tuhan, seakan-akan cukup cukup saja dengan kualitas rendah?

hari ini harus lebih baik kualitasnya dari kemaren...

Tuesday, January 4, 2011

can i still hope?

skripsi ini sungguh berat.. sangat berat...
aku tak yakin kalau skripsi ini bisa kelar...

tapi Tuhan.. jikalau benar Engkau terlebih rindu agar aku bisa memuliakan Engkau, mampukanlah aku ya Tuhan..

tubuh ini lelah, capai..
hati juga sakit, kesal, benar-benar lelah...

jikalau aku tidur, maka aku menyesal karena waktu terbuang.
jikalau aku tidak tidur, maka aku juga tidak bisa konsentrasi mengerjakan skripsi ini.
aku berharap aku sakit dan aku tau itu bodoh dan salah.

sisa 2 minggu ya, Tuhan.. dan aku seolah-olah harus mengerjakan sendiri bab 1-5.
mungkinkah...? :(

dengan jadwal PA di 2 persekutuan besar minggu depan...
bisakah aku mengerjakan ini ya, Tuhan? :(

hufff.... biarlah selama 2 minggu ini, aku bisa melihat penyertaan-Mu dan menikmati kekuatan dari-Mu.

kuatkan dan teguhkanlah hatiku ya, Allah, untuk mengerjakan yang terbaik bagi-Mu..

Sunday, January 2, 2011

awal transformasi...

*ditulis untuk mengingatkanku yang pelupa ini...*

sepanjang ibadah hari ini aku tak sanggup untuk tidak menangis.

aku sudah berencana untuk tidak tidur dan mengikuti ibadah pertama, dengan alasan mengerjakan skripsi. dari jam 4 aku ingin tidur, tapi tidak bisa tidur karena terus-terusan aku memikirkan skripsiku.

jam 5 akhirnya aku tertidur lelap, hingga aku tidak sadar sudah mematikan alarm di 3 waktu yang berbeda. ketika terbangun, aku kaget.. ternyata aku telat untuk ibadah pertama, ibadah yang lebih kunanti-nantikan daripada ibadah kedua dan ketiga.
tetapi aku menyadari Tuhan tidak senang dengan rencanaku itu. sengaja tidak tidur, dan kemudian bertemu dengan-Nya dengan kondisi belum tidur.
aku menyadari Ia memulai dengan memberiku waktu tidur, agar aku bisa lebih siap untuk bertemu dengan-Nya.

aku segera ke gereja, dan karena malas dan capai, akhirnya aku memilih naik bajai. alhasil sampai di gereja h-1 jam sebelum ibadah dimulai. namun lagi-lagi aku melihat Dia menyertai. jikalau aku tidak naik bajai, pasti aku sudah kehujanan..

sambil menunggu, aku ke perpustakaan dan membaca buku. buku yang aku pilih untuk dibaca : mencintai hingga terluka. sekitar 20 menit aku membaca buku itu, dan aku mendapati bahwa aku memang belum mengampuni. lagi-lagi aku melihat Ia menuntunku untuk melihat sebenarnya ada yang belum selesai di dalam hidupku.

akhirnya aku berada di atas, dengan kondisi sepi, dan akhirnya aku tidak bisa lagi menahan diri. menangis di hadapan-Nya, memohon kekuatan dari-Nya, ditambah dengan kesadaran akan hati yang belum mengampuni, aku memohon ampun. dan aku kembali melihat, Ia sengaja memimpinku untuk ikut ibadah yang ke-2, sehingga aku bisa duduk sendiri, mendapatkan kondisi yang sepi, dan menikmati Dia.

ayat panggilan beribadah diserukan, ayat panggilan yang hampir mirip tiap minggunya, namun sangat berbeda di hari ini karena aku menikmati bahwa Dia layak untuk dipuji dari selama-lamanya sampai selama-lamanya dan kasih-Nya dari selama-lamanya sampai selama-lamanya. Ia menegurku... mengapakah aku masih meragukan Dia?

dilanjutkan dengan pujian yang begitu indah.. Besar setia-Mu.. bait per bait, kalimat demi kalimat, kata per kata, begitu menegur, juga menguatkan. mengapakah aku masih meragukan kasih-Nya?

Ia seakan-akan berkata kepadaku.. Aku menanti-nantikan engkau. dan aku sadar bahwa aku sudah begitu bodoh membiarkan Dia yang begitu mengasihi aku bahkan menyakiti Dia.. tidakkah aku mau pulang kepada-Nya?

ibadah berlanjut dengan satu lagu doa.. sucikan hatiku, o Tuhanku.. aku pun menikmati berdoa memohon agar Ia yang mengubahkan hatiku yang penuh luka, penuh dendam, penuh amarah.. agar Ia mengubahkan hidupku.. menjadi hidup yang baru..

bersama jemaat dari segala abad, dan dari segala tempat, aku pun mengakui pengakuan iman rasuli. mengakui dengan kata-kata akan Allah yang kupercaya. selesainya, Ia kembali memanggilku untuk tinggal dalam-Nya lewat paduan suara yang menyanyikan lagu yang sederhana namun menjamahku.

dengan penuh kerinduan, aku memohon agar Ia membukakan hatiku untuk mendengarkan sabda-Nya. dan aku pun berkomitmen. untuk melakukan yang terbaik, untuk menyenangkan hati-Nya saja, seperti nuh yang bisa membuat-Nya senang, aku pun rindu untuk bisa seperti itu..

dilanjutkan dengan anugerah untuk berbagian dalam perjamuan suci. betapa aku menikmati perjamuan itu dan boleh menikmati kehadiran-Nya. kemudian dilanjutkan dengan pergumulan saat itu juga, maukah aku memberi yang terbaik? apakah yang aku takutkan..? sedang Ia tidak pernah ingin mengambil sesuatu dari pada ku...

ditutup dengan panggilan untuk hidup sebagai anak-anak terang, tidak lagi sebagai kegelapan, dan mengembalikan segala pujian, hormat bagi-Nya.

Allah manakah seperti Allahku.. yang merencanakan, merancang dengan sedemikian rupa.. aku yang terpuruk, Ia bangunkan. apa yang kuperlukan secara jasmani, yang sengaja tidak kupikirkan, Ia berikan untukku.. penyataan akan ketidakkudusanku sehingga aku menyadari dan semakin mengenal aku di hadapan-Nya, juga Ia rancangkan. Ia bukakan apa yang aku tanyakan, apa yang tidak kumengerti, apa yang tidak kuketahui tentang mana yang baik, yang benar, yang berkenan kepada-Nya.

Ia bahkan merancang waktu yang tepat untuk aku boleh mengalami semua ini.

Sungguh aku rindu untuk tidak lagi menduakan Engkau.
Betapa berbahagia orang yang terpuruk, karena Ia menghibur dengan melimpahnya...
Tiada yang bisa aku ucapkan, selain syukur...

dan sekarang aku sadar. walaupun ini adalah tema gerejaku, awal sebuah transformasi, namun Ia mengerjakannya secara pribadi kepadaku. aku secara pribadi mengalami apa yang Ia maksud mengenai awal sebuah transformasi..

kiranya... hidupku boleh semakin diubahkan.. kiranya aku bisa menyenangkan hati-Nya senantiasa... amin.