Sunday, June 5, 2011

Transforming Spirituality - sesi 4 - Uproar of Spiritual Journey

Transforming Spirituality - sesi 3

Baca Markus 1:21-39

Kesibukan adalah hiruk pikuk dunia ini. Kesibukan sering membuat kita penuh dan secara teoritisnya memang seperti itu. Namun dalam perikop yang kita baca tadi, kesibukan Yesus tidak membuat Dia penuh.

Kenapa sih Yesus mau berganti tempat? Padahal toh Dia melakukan hal yang sama, dan mau tetap di Kapernaum ataupun di tempat yang lain, sama saja sibuknya.

Namun sesungguhnya kata "marilah kita pergi" adalah kata yang penting dalam ritem kesibukan. Ini adalah spirit dari menarik diri dari kesibukan.

Kalau sibuk, warning diri akan bahaya kesibukan yang membuat kita terikat dan terkungkung dalam kesibukan itu.

Kalimat yang sering dicetuskan oleh orang sibuk : "kalau ga ada aku, maka akan jadi berantakan."
Ketika kita pengen jadi orang penting, kita bakal terikat akan keisbukan itu dan itu adalah tindakan menghancurkan diri.

Menarik diri adalah tindakan melepas, dan ketika melepas, ada ketenangan. Tidak dikontrol waktu, tetapi dapat mengontrol waktu dan melepas kesibukan-kesibukan yang ada.

Kadang ketika pelayanan, kita sering mengharapkan nilai yang baik dari orang lain, baik itu jemaat ataupun teman sepelayanan. Akhirnya ketika persiapan, pengen semua jemaat menikmati pelayanan kita. Dan akhirnya pengen nyenengin jemaat. Pada akhirnya, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kita diikat oleh pelayanan itu.

Dan ketika kita mengevaluasi diri, itulah saat kita menarik diri dan melepas kesibukan tersebut.

Yesus sangat sibuk, namun Ia dapat menarik diri dan mengontrol kesibukan itu. Yesus bangun pagi-pagi dan berdoa, namun itu pastinya bukan satu-satunya cara. Di tengah kesibukanNya, Ia terus menarik diri sehingga Ia tahu apa yang sedang Ia lakukan.

Kalau kita bangun, lalu berdoa dan saat teduh tapi dengan rasa ngantuk dan terpaksa, sesungguhnya kita hanya sedang melakukan tindakan keagamaan dan pada akhirnya kita tidak menarik diri.
Tapi, menarik diri secara aktual (retreat, saat teduh, dsb) tetap perlu. Menarik diri yang tidak aktual adalah ketika hati kita tidak terikat pada kesibukan itu. Namun, tentunya hati seperti itu tidak gampang dimiliki. Oleh karena itu, kita perlu evaluasi diri.

Menarik diri harus diikuti juga dengan sikap menyerahkan diri. Menyerahkan diri bisa dengan doa, saat teduh, membaca buku rohani, mendengar khotbah, dsb. Namun pointnya bukan itu. Ketika berdoa, sadarlah kalau kita tidak sekedar doa, tetapi kita sedang menyerahkan diri ketika kita berdoa. Begitu juga ketika kita saat teduh, membaca buku rohani, mendengar khotbah, dsb.

Penyerahan diri ini adalah penyerahan untuk dibentuk dan diolah oleh Allah. Jangan sampai ketika kita pelayanan, tidak ada penyerahan untuk dibentuk dan diolah oleh Allah.

Mazmur 131
Pada ayat 1 kita bisa melihat bahwa Daud sedang menarik diri. Kalimat ini bukan berarti kita tidak perlu memikirkan bagaimana ada kemajuan yang besar dalam persekutuan, namun hati Daud yang rindu jangan sampai aku tinggi hati dan merasa hebat.
Di ayat 2, Daud menenangkan jiwa. Ketika Daud berkata seperti anak yang disapih maka keadaan dari anak itu begitu tenang. Ketenangan ini yang perlu ada dalam hidup kita.
Ditutup dengan ayat 3 : Berharap pada Allah selama-lamanya.

Ayat 1-2a Daud menarik diri, dan ayat 2b-3 Daud menyerahkan diri.

Di dalam perjalanan hidup kita, lika-liku hidup adalah bagian yang tidak bisa kita tolak. Namun, bagaimanakah engkau menjalani hidup?

Ketika menarik diri, kita akan sadar kalau kita tidak bisa apa-apa. Namun ketika kita menyerahkan diri, kita akan menikmati kekuatan dari Allah dalam perjalanan hidup.

Pertanyaan untuk refleksi dan evaluasi diri :
- Di dalam menjalani ritme kesibukan itu, bagaimanakah engkau hidup?
- Apa yang sebenarnya mengungkung hidupmu? Kuatir akan masa depan yang membuatmu terus-menerus merasa ada yang harus disiapkan? Atau perasaan berarti yang membuat engkau pengen jadi orang penting?

No comments: