Transforming Spirituality - sesi 4 - Uproar of Spiritual Journey
Baca Lukas 15:11-32
Cerita tentang perumpamaan anak yang hilang mungkin sudah sangat sering teman-teman baca atau dengar. Baik itu dari sisi anak bungsu, Bapa, maupun anak sulung. Namun pada kesempatan ini, mari kita membandingkan anak bungsu dan anak sulung.
Anak bungsu :
- kurang ajar. Ketika ia meminta warisan terlebih dulu, secara tidak langsung sebenarnya sudah seperti berkata : "Kamu ini tidak mati mati padahal umur dah tua. Karna aku ga sabar lagi, sini kemarikan harta bagianku."
- tapi jujur
- mau kebebasan
- jatuh begitu dalam
- sadar akan situasi dirinya dan sadar kalau hidup dengan Bapa lebih enak
- Bapa keluar dan anak bungsu mau masuk
Anak sulung :
- ada di rumah Bapa
- marah di rumah Bapa
- Bapa keluar, tetapi anak sulung tidak mau masuk.
- anak sulung ada dir umah Bapa, namun hidup sebagai seorang Kristen budak, bukan anak. ("...For years, I've been working like a slave...")
Maka pertanyaan untuk kita pribadi :
- Who are you? And where are you?
- Are you a son? Or are you a slave?
Jika engkau adalah anak bungsu, maka kembalilah pulang. Rumah Bapa lebih enak dari tempat manapun juga.
Jika engkau adalah anak sulung, maka berhentilah menjadi budak! Hidupilah hidupmu sebagai anak.
Seorang anak ketika akan bertemu Bapanya, pasti sangat senang. Lalu bagaimana engkau ketika akan bertemu Bapa?
Masalah sebenarnya sudah terjadi dari kita kecil. Orang tua mengajarkan yang tidak baik.
- kalau dapat nilai bagus atau dapat juara 1, nanti akan diberikan hadiah. Akhirnya si anak belajar seperti budak, demi mendapatkan hadiah.
Dan kebiasaan serta budaya budak ini sudah mempengaruhi juga kehidupan kerohanian.
- berdoa seperti budak. Karena sebelum tidur harus berdoa, akhirnya doa menjadi kewajiban dan isi doa terus-terusan sama setiap malamnya. Berdoa sebagai kewajiban = berdoa seperti budak.
- saat teduh dengan ngantuk dan terpaksa. Akhirnya tidak mendapatkan apa-apa karena melakukan saat teduh seperti budak, bukan anak. Seorang anak punya kerinduan pada Bapanya. Maka ketika saat teduh, doa, beribadah, dll, akan ada kerinduan yang begitu besar pada Bapa. Bapa mengasihi anak, dan anak mengasihi Bapa.
Pada sesi 3, ekspresi kerohanian terasa begitu berat. Penginjilan terasa begitu berat. Mengapa?
Ini juga dikarenakan hidup kerohanian yang dijalani seperti budak. Harus ini, harus itu, dan akhirnya dipandang sebagai suatu kewajiban dan akhirnya menjalani hidup seperti budak.
Jadi, apa yang engkau pilih?
Menjalani hidup sebagai anak, atau sebagai budak?
No comments:
Post a Comment