Baca Lukas 7:36-47. Cerita dalam perikop ini adalah tentang seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, yang membasuh kaki Tuhan Yesus.
Perhatikan ayat 47.
Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.
ia telah banyak berbuat kasih.
Kata banyak di ayat ini mengandung arti kwalitas dan kwantitas sama-sama banyak, padahal kalau kita hitung apa yang dilakukan perempuan ini, hanya 4 hal yang ia lakukan :
- ia membasahi kaki itu dengan air mata
- ia menyeka kaki itu dengan rambutnya
- ia mencium kaki itu
- ia meminyaki kaki itu dengan minyak wangi
Lalu mengapa yang 4 ini bisa disebut banyak?
Karena ia telah melakukan hal yang lebih dari budak, padahal ia bukan budak dan tidak ada yang memerintahnya.
- ia membasahi kaki itu dengan air mata, bukan dengan air biasa
- ia menyeka kaki itu dengan rambutnya --rambut yang dipandang sebagai mahkota bagi wanita-- , bukan dengan handuk
- ia meminyaki kaki itu dengan minyak wangi --minyak yang sudah sengaja disiapkan, minyak yang begitu mahal, yang seharusnya dipakai ketika akan menikah, minyak yang untuk mendapatkannya, paling tidak perlu proses 1 tahun--
Maka alasan ke-2 mengapa banyak, karena Yesus melihat prosesnya. Perempuan itu dikenal sebagai penzinah dan sangat berbahaya ketika ia ke rumah Simon, proses yang begitu besar yang telah ia lakukan.
Hal ke-3, perempuan itu memiliki hati yang menyembah. Segala yang ia lakukan berpusat pada kaki karena ia tahu betapa ia tidak layak. Apa yang ia miliki, ia sadar itu pun tidak layak dan hanya ia pusatkan pada kaki Yesus.
Mari kembali perhatikan ayat 47.
Sebab akibat pada ayat 47 dalam terjemahan indonesia : perempuan itu boleh beroleh pengampunan karena ia berbuat banyak kasih.
Maka pertanyaan yang muncul :
Apakah karena aksi perempuan itu maka Yesus bereaksi? Atau apakah karena aksi Yesus mengampuni perempuan itu maka perempuan itu berespon dengan reaksi mengasihi dengan perbuatan kasih yang banyak?
Kalau terjemahan indonesia benar, maka :
- Allah bereaksi ketika manusia berusaha menggapai Allah
- Ada timbal balik : kalau bisa bayar, kita dapt, berarti tidak ada pemberian yang gratis dari Allah dan kalau sudah bayar mahal tapi tidak mendapatkan sesuai dengan bayaran, maka perempuan itu berhak marah.
- Hubungan dengan Tuhan akan berkelas, tergantung dari apa yang manusia lakukan.
Namun, mari kita bandingkan dengan terjemahan NIV dan ESV.
NIV
"Therefore, I tell you, her many sins have been forgiven--for she loved much. But he who has been forgiven little loves little."
ESV
"Therefore I tell you, her sins, which are many, are forgiven—for she loved much. But he who is forgiven little, loves little.”
Kalau terjemahan NIV/ESV benar, maka 3 pemahaman di atas tidak berlaku. Yesus yang beraksi dan kita merespon dengan bereaksi. Sehingga Allah yang berinisiatif, bukan kita. Kenapa perempuan itu diampuni? Karena ia tidak dapat bayar, dan Yesus yang bayar. Dan mengapa perempuan itu melakukan tindakan seperti itu? Karena perempuan itu berespon.
Inilah anugerah.
Kalau begitu apakah anugerah dapat diambil?
Tidak bisa, karena itu adalah kemurahan hati dari pemberi!
Dan tanpa kerendahan hati, maka anugerah itu tidak akan mau diterima oleh orang itu. Anugerah tidak gampang diterima karena kita harus berjumpa dengan ketidakberdayaan kita.
ay 41-43
Berhutang 500 dinar dan berhutang 50 dinar, mana yang lebih banyak? Pastinya yang hutang 500. Orang yang punya hutang 500 punya perasaan dikasihi oleh pelepas hutang lebih besar daripada yang berhutang 50.
Sehingga.. makin orang itu berdosa, makin dekat ia dengan Tuhan.
3 alasan terjemahan NIV/ESV benar :
ay 42-43 : pelepasan hutang dulu baru mengasihi.
ay 47 : pengampunan dosa menggunakan perfect tense, sedangkan kasih menggunakan past tense.
ay 47 : orang yang banyak diampuni, banyak berbuat kasih.
Pengalaman mendapatkan pengampunan adalah kerohanian.
Respon setelah menerima pengampunan adalah aktivitas keagamaan.
Maka, pengalaman rohani bersama Tuhan harus mendahului daripada aktivitas keagamaan.
Spiritualitas harus mendahului tingkah laku dan kehidupan keagamaan kita.
Kita harus ingat hal tersebut karena begitu seringnya kita hanya terfokus pada aktivitas keagamaan dan tidak memperhatikan pengalaman yang harus terjadi sebelumnya.
Misal Efesus 4:32
Pengalaman rohani : diampuni oleh Allah
Aktivitas keagamaan : ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni.
Kita sering langsung terpaku pada nasehat ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni. Dan pengalaman rohani diampuni oleh Allah tidak diingat.
Ingat pengalamanmu diampuni oleh Allah. Dan pengalaman inilah yang membuat kita ingin berespon dengan ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni.
Masalahnya banyak di antara kita ini orang-orang Kristen legalistik, buktinya :
- milih-milih pendeta
- kalau ada orang kerasukan, ga berani ngusir karena takut kita yang dirasuki nantinya
- kalau ada masalah, marah dan kecewa pada Tuhan
Kenapa bisa begini?
Karena kita dari kecil diajari hubungan timbal balik.
Orang tua lebih sayang anak yang lebih pintar. Guru lebih sayang anak yang tidak nakal. Dari kecil sudah diajarin untuk melihat prestasi. We get what we pay.
Maka ketika kita diajari doktrin kristen, tidak ada aplikasi yang sesuai dengan doktrin itu.
Oleh karena itu, fondasi pertama :
Pengalaman bersama Tuhan harus mendahului hidup keagamaan.
No comments:
Post a Comment