Sunday, June 5, 2011

Transforming Spirituality - sesi 3

Transforming Spirituality - sesi 2

Baca Wahyu 2:1-4

Bisakah orang Kristen menjalani tingkah laku agama (ibadah, pelayanan, dsb) tanpa kerohanian?
Bisa. Pertama adalah orang yang mengalami kekosongan rohani, yang kedua adalah orang yang mengalami kematian rohani.

1. Kosong Rohani
Kebanyakan orang-orang yang mengalami kekosongan rohani adalah mereka yang lahir dari keluarga Kristen, yang diwariskan agama Kristen dan yang tidak mengalami pengalaman bersama Tuhan.

Perjumpaan bersama Kristus tidak bisa diwariskan, walau doktrin, ekspresi kerohanian, pengetahuan Kristen, moralitas Kristen bisa diwariskan. Karena tidak mengalami perjumpaan bersama Kristus, maka kekristenan dijalani dengan kekosongan rohani. Orang seperti ini tidak mampu menggambarkan siapa Tuhan bagi dia secara pribadi.

Banyak gereja yang akan mati/mundur jika tidak melakukan :
- shame and guilty
- fear
- iming-iming

Contohnya begini.
- Berikan perpuuluhan, maka akan mendapatkan berkat. (iming-iming)
- Kalau tidak persembahan, nanti akan mengalami masalah. (fear)
- Misal ada 1 cerita yang disampaikan di dalam khotbah.

Ada seorang yang punya uang 100 ribu. Waktu ia melihat ada seorang pengemis, dia begitu iba dan akhirnya dia memberikan 90 ribu miliknya ke pengemis itu. Pengemis itu tahu kalau si pemberi memiliki uang 100 ribu, sehingga masih ada sisa 10 ribu pada si pemberi. Si pengemis kemudian mencuri uang 10 ribu milik si pemberi itu.

Sampai di sana respon setiap pendengar pastinya kaget dengan sikap si pengemis yang tidak tahu terima kasih itu. Dan kemudian pemberitaan Firman dilanjutkan. Pengemis itu adalah engkau. (shame and guilty)

Mengapa gereja berubah menjadi seperti ini? Bagaimana sebenarnya respon yang bisa kita lihat di Alkitab?
Kembali ke cerita mengenai perempuan berdosa yang sudah saya bagikan di sesi ke 2. Ketika perempuan itu melakukan hal yang lebih dari budak, sebelumnya Tuhan tidak berkata ke perempuan itu : "Karena Aku sudah mengampuni kamu, maka kamu harus memberikanku minyak yang mahal".

Begitu juga dengan cerita Yakub. Jika teman-teman ingat tentang cerita Yakub, di Kejadian 28:20-22, Tuhan tidak menyuruh Yakub untuk ngelakuin ini dan itu, tapi Yakub sendiri yang bernazar dan pada akhirnya ia melakukan nazarnya itu : mengakui Allah, membuat mezbah dan melakukan perpuluhan.

Perempuan berdosa dan Yakub tidak disuruh atau diperintah oleh Tuhan, namun mereka berespon setelah mengalami Tuhan.

Contoh lain lagi berkaitan dengan 3 metode di atas adalah penginjilan. Di kitab Kisah Para Rasul, kita bisa melihat bahwa saksi adalah being, bukan doing.
Namun, ketika perjumpaan rohani tidak ada, penginjilan juga dilakukan dengan 3 metode tersebut.
- takut-takutin : kalau kamu pulang ke Surga dan ditanya berapa jiwa yang kau bawa, apa jawabmu?
- guilty : mengajak untuk menghitung dalam 1 tahun berapa orang mati? dibagi 12, jadi berapa orang mati dalam 1 bulan? dibagi lagi mpe 1 menit, berapa orang yang mati tanpa kenal Tuhan?
- iming-iming : mahkotamu akan berat ketika kamu banyak penginjilan.

Padahal penginjilan itu seharusnya karena dia sudah menikmati keindahan Allah, ia tidak tahan kalau tidak bercerita.

Akibat dari 3 metode di atas :
- Penginjilan jadi beban yang begitu berat
- Penginjilan menjadi hal yang sangat menakutkan
- Setelah penginjilan merasa lega, bukan karena mengasihi dan peduli akan keselamatan orang yang diinjili, tapi lebih karena terselamatkan dari guilty feeling.

Contoh lain lagi adalah tentang doa. Sebelum makan, harus berdoa. Kalau sudah makan 1 sendok, baru keingat belum berdoa, guilty feeling langsung muncul.

Pada akhirnya semua aktivitas keagamaan itu menjadi ritual yang kering.

Kemudian.. Berbicara tentang moral, bagaimana kondisi moral yang lahir dari rohani yang kosong?
Moral kristen tidak dirasa sebagai pelepasan, tetapi kekangan. Sehingga perkataan Yesus di Matius 11:38, beban tidak dilihat ringan, tetapi sangat berat. Ekspresi kerohanian bisa dilakukan tanpa kerohanian, tetapi menjadi beban yang sangat berat.

Oleh karena itu, perlu ada perjumpaan dengan Tuhan sehingga kerohanian tidak lagi kosong. Pertanyaan yang perlu anda tanyakan sebagai evaluasi terhadap diri :
Apakah ada perjumpaan dengan Tuhan yang pernah kau alami? Masih merasakan kehadiran-Nya kah?

No comments: