Transforming Spirituality - sesi 5 - Living As A Son, NOT A Slave
Ada 2 jurang besar dalam kehidupan kita, yaitu :
1. Jurang yang memisahkan kita dengan Allah dikarenakan dosa.
2. Ada gap antara kekristenan kita setelah percaya dengan hidup Kristen yang ideal.
Gambaran kita tentang orang Kristen yang ideal bagi setiap kita berbeda-beda. Cara tahunya adalah pikirkan apa yang selalu membuat kita frustasi dalam kerohanian. Ada orang yang merasa frustasi karena belum penginjilan, maka pastinya di dalam gambaran orang Kristen yang ideal bagi dia salah satunya suka penginjilan. Atau jikalau bagi dia orang Kristen yang baik itu adalah orang yang senang PA, maka salah satu ciri orang Kristen yang ideal bagi dia adalah senang PA.
Gambaran yang jelas tentang hidup Kristen yang ideal adalah sangat penting. Karena gambaran itulah yang menjadi goal kita dari pertumbuhan rohani kita. Dan ketika goal itu tidak tercapai, kita menjadi frustasi.
Maka orang Kristen berikutnya yang bisa menjalani aktivitas keagamaan tanpa kerohanian adalah mereka yang terjebak dalam kekristenan siklus.
Seperti gambar di atas, di dalam perjalanan kerohaniannya kepada hidup Kristen yang ideal, orang tersebut menerima Firman, kemudian mengambil komitmen. Setelahnya ia berjuang dan berjuang memegang komitmen tersebut, namun setelah beberapa saat, orang tersebut gagal dan kemudian jatuh lagi dalam dosa, pada akhirnya merasa bersalah (guilty). Setelah itu mengaku dosa dan memohon pengampunan dari Tuhan, dan mengambil komitmen lagi.
Namun ternyata siklus tersebut tidak berhenti sampai di sana. Karena setelah berkomitmen, berjuang begitu keras, pada akhirnya gagal, merasa bersalah, mengaku dosa dan kemudian meminta ampun lagi, dan mengambil komitmen lagi. Makin hari keadaan orang ini makin parah. Makin lama ia di dalam siklus itu, makin besarlah rasa bersalah yang ia miliki.
Sampai akhirnya ia bisa menang dari dosa tersebut... 1 minggu.. 2 minggu.. 3 minggu.. bahkan sampai 2 bulan.. Namun ternyata setelah itu ia jatuh lagi dan ini makin parah. Karena guilty makin besar.
Sampai kapan saudara akan berputar di siklus ini?
Sampai pada 1 tahap, yaitu ketika ia kehilangan kepercayaan akan iman Kristennya. Ia menjadi apatis dan bahkan tidak mau lagi pengakuan dosa, karena toh nantinya bakal berbuat dosa lagi.
Namun pada satu titik akhirnya ia mengikuti retreat atau KKR atau KPR atau event tertentu yang akhirnya menyadarkan dia dan saat itu dia melakukan recommitment. Dan inilah titik yang semakin parah. Karena siklus tersebut kembali berulang. Ketika gagal, rasa sakit semakin dalam dan kemarahan terjadi pada diri sendiri. Pada titik sebelumnya memang ia juga mulai marah pada diri, namun kali ini lebih besar lagi kemarahan tersebut. Kemudian pada tahap terakhir ia bukan lagi meragukan kekristenannya, tetapi meragukan kekristenan itu sendiri sebagai suatu dusta. Ia bisa berkata bahwa ia percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, tetapi tidak percaya kalau Tuhan Yesus bisa mengubah diri seseorang.
Kita mungkin tetap melayani, namun di dalamnya, kerohanian kita sudah keropos dan hancur. Dan ini adalah kondisi ketika kita mati rohani. Inilah orang yang disebut mati rohani. Orang yang tadinya berjuang begitu keras, namun pada akhirnya mengalami kematian.
DAN INI ADALAH KEROHANIAN YANG SALAH
Apa yang salah dengan kerohanian siklus?
Yang salah adalah perjalanan rohani bermula dan berakhir pada diri kita sendiri. Kita berjuang mati-matian sendiri. Istilah yang sering disebut : Salvation is free, but discipleship is costly. Memang aku selamat itu gratis, namun setelahnya... aku harus bayar harga sendiri, mati-matian untuk mencapai akhir. Di dalam perjalanan rohani jenis ini, tidak ada lagi salib, sehingga :
1. Salib hanya menjadi alat transportasi, bukan sebagai alat untuk transformasi. Sehingga ketika kita mendengar bahwa Yesus adalah Juruselamat, kita menganggap itu adalah untuk orang non Kristen saja. Salib menjadi masa lalu karena perjuangan rohani yang ada bergantung pada diri sendiri.
2. Penerimaan Allah bergantung pada prestasi kita dalam mencapai hidup kudus. Yang kita rasa : kalau aku berhasil, baru kita merasa Allah bangga pada kita. Sesungguhnya pertanyaan : "Banggakah Allah kalau Ia melihat engkau?" atau sejenisnya adalah pertanyaan yang melecehkan kerohanian! Kenapa? Karena pada akhirnya kita melihat pada dosa kita, melihat pada diri kita dan tidak lagi melihat salib. Padahal sesungguhnya Tuhan tidak pernah kecewa karena kita. Kenapa? Karena dari semulanya, kita mengenal Tuhan karena Kristus, sehingga tidak ada alasan bagi Tuhan untuk kecewa lagi pada kita.
3. Sebuah perpalingan. Kalau sebelumnya aku menyeberang melewati salib, sekarang tergantung diriku. Sehingga kita masuk dalam kepercayaan : Salib + Prestasi.
4. Sadar atau tidak sadar, kerohanian ini sudah kembali menjadi Taurat. Karena itu gambaran orang Kristen yang ideal yang kita miliki, itu menjadi Taurat bagi kita. Apa sebenarnya fungsi Taurat?
- Menyatakan dosa.
- Memperkuat keinginan untuk berdosa.
- Selalu membuat kita merasa ada saja yang salah.
- Membuat kita mati dalam dosa kita.
Perubahan yang terjadi : dari yang memandang salib, sekarang jadi mencari cara agar bisa mengalahkan dosa.
Akan semakin parah lagi jikalau kekristenan siklus ini dialami mereka yang punya background patologi (gangguan jiwa). Ciri-cirinya :
- ia butuh didengar & dimengerti
- ia butuh diterima & dihargai
- ia butuh dikonfirmasi
- ia butuh perasaan dimiliki
- ia butuh dibutuhkan
- ia butuh disentuh
Kalau kebutuhan diterima dan dihargai ini tidak ia terima, akan menimbulkan rasa malu (keberadaanku salah, aku cacat). Dalam menjalani kehidupannya, kegagalan demi kegagalan membuat dia malah membenci diri sendiri. Ini yang menyebabkan dia jatuh dalam keputusasaan kerohanian. Dan orang yang memiliki background patologi ini sesungguhnya lebih membutuhkan motivator daripada pendeta, ia lebih menginginkan self-development, dan tidak memerlukan salib.
Sampai di sini kita mengupas tentang kehidupan kerohanian yang salah. Selanjutnya kita akan membahas bagaimana sebenarnya kehidupan kerohanian yang benar.


No comments:
Post a Comment