Kembali berbicara tentang jurang dosa.
Jika ditanya berapa besar ukuran dari jurang dosa, apakah jawabanmu?
Jurang dosa tidak terukur panjangnya. Mengapa? Karena jurang spiritual ini memisahkan Allah yang suci dengan manusia yang begitu rusak.
Kalau begitu, berapa besar ukuran salib itu?
Salib itu tidak terukur! Oleh karena itu, salib itulah yang menyebabkan kita bisa menyeb'rang ke Allah.
Kalau begitu, ketika pertama kali kita percaya Yesus dan setelah kita percaya, sudahkah kita punya jumlah yang aktual tentang dosa dan salib?
BELUM! Pemahaman salib dan dosa tidak objektif, karena dosa dan salib tidak terukur.
Mari kita membaca 1 Korintus 15:9, Efesus 3:8, dan 1 Timotius 1:15.
Ketiga surat tersebut adalah surat yang ditulis oleh Paulus. Surat 1 Korintus ditulis di awal pelayanan Paulus dan di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara rasul-rasul". Surat Efesus ditulis di tengah pelayanannya, dan di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang percaya." Dan surat 1 Timotius yang ditulisnya di masa akhir pelayanannya, di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang berdosa."
Jika kita membandingkan Paulus dengan perumpaan mengenai hutang 50 dan 500 dinar yang ada di Lukas 7:41-43, mungkin waktu menulis surat 1 Korintus itu Paulus seperti berhutang 50 dinar, ketika menulis surat Efesus katakanlah Paulus berhutang 500 dinar, dan sampai ke masa ia menulis surat 1 Timotius mungkin Paulus berhutang 5 juta dinar.
Actual size dari salib sama, namun dalam pemahaman size-nya menjadi berbeda. Dan mungkin pemahaman Paulus mengenai besarnya salib tidak berhenti di 1 Timotius saja, karena mungkin pemahaman akan besarnya salib semakin bertambah dan semakin bertambah. Oleh karena itu, ucapan syukur kita tidak akan bisa dibandingkan dengan apa yang kita terima. Tidak akan pernah cukup ucapan syukur itu.
Kalau begitu, apakah salib pernah menjadi masa lalu?
TIDAK! Justru salib itu akan bertambah besar dan itulah pertumbuhan kita.
Hidup kudus bukan berarti hidup makin bersih dan makin bersih. Kalau hidup kudus itu artinya makin bersih, berarti Paulus tidak punya kekudusan hidup karena toh dia makin lama makin jorok dan makin jorok.
Hidup kudus bukan berarti hidup makin bersih dan makin bersih, justru makin jorok, makin jorok dan makin jorok. Makin jorok bukan berarti kita lalu melakukan dosa dengan sekeinginan hati kita. Itu justru terkutuk, tulis Paulus di surat Roma.
Kalau begitu, apa sih pertumbuhan itu?
Pertumbuhan adalah bertambah besarnya salib karena kita makin ngeliat betapa celakanya aku tanpa salib. Kristen tidak menawarkan hidup makin bersih, tapi bukan juga berarti kita makin jorok di dalam tingkah laku hidup kita.
Lalu, kenapa kita ga sadar salib semakin besar?
Karena kita butuh kesadaran betapa besarnya dosa.
Dan bagaimana caranya kita bisa melihat besarnya dosa hingga mendekati ukuran aktual?
Dengan makin melihat kekudusan Allah (ketinggian salib).
Jika kita ingin tahu berapa kedalaman sesuatu, kita pasti harus tahu tingginya, dan kalau kita mau tahu berapa ketinggian sesuatu, kita perlu tahu kedalamannya.
Jika mau melihat berapa tingginya salib, kita harus melihat kedalaman dosa. Dan jika mau melihat berapa dalamnya dosa, kita harus melihat berapa tingginya kekudusan Allah.
Ada 7 jurus yang sering kita pakai untuk membuat dosa makin tidak kelihatan :
- Memakai kriteria yang double
Contoh : Kalau aku ngotot, itu karena aku konsisten. Tapi kalau orang lain ngotot, itu karena orang itu kepala batu.
- Melihat kesuksesan-kesuksesan dan prestasi-prestasi kita, melihat apa yang tidak kita langgar, sehingga melihat kalau aku ini ga jelek-jelek amat.
- Bisa mengukur dosa : Ada yang lebih berdosa dari aku. Jadi dosanya masih boleh nambah.
- Dosa itu dari eksternal.
Contoh : Aku tidak lagi memukul adikku, tetapi di dalam hati, kebencian pada adikku semakin bertambah. Hanya mengukur pada : aku tidak memukul lagi.
- Kita biasa melihat dosa itu ada yang permissive dan ada yang commisive. Dalam perumpamaan mengenai orang Samaria, penyamun melanggar semua yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan imam dan lewi melanggar apa yang seharusnya dilakukan.
=> Contoh lain : Memang tidak berzinah, tetapi di otak setiap hari mikir untuk tidak setia sama isteri. Dosa di otak dibiarkan begitu saja.
(2 lagi tidak disebutkan oleh pembicara...)
Kita sering melihat berapa besar akibat, bukan berapa besarnya dosa, sehingga keterbalikan yang sedang kita alami :
Hidup yang hutangnya makin berkurang, makin berkurang, dan makin berkurang...
Ini yang menyebabkan anda bukan hanya kehilangan salib, tetapi juga salib yang dilihat present oleh Paulus, salib yang dilihat sebagai kabar baik, bagi kita menjadi kabar buruk, karena fokus kita : aku harus begini, aku harus begitu.
Jika kita membaca Lukas 18:9-14, maka kita dapatkan pertumbuhan yang benar, yaitu dari orang yang berdoa seperti orang Farisi, menjadi orang yang berdoa seperti pemungut cukai. Bukan sebaliknya. Karena itu, semakin hari kita tidak merasa lebih baik dari orang lain, karena tidak ada yang bisa kita banggakan, semuanya itu adalah anugerah...
Jikalau begitu, kapankah seseorang memiliki kerohanian yang terbaik di hadapan Allah? Kapan orang itu berkenan di hadapan Tuhan?
Yaitu saat ia melihat Tuhan dan kemudian ia berkata : "Tuhan, betapa aku butuh salibMu." Salib secara kognitif tidak akan bertumbuh, tetapi awareness yang berubah. Ada kerinduan bahwa salib itu semakin besar. Sampai salib itu menguasai seluruh ruang dalam hidup saya. Itu adalah kerohanian terbaik dan yang berkenan di hadapan Tuhan.
Kalau begitu, apakah yang harus kita lakukan?
1. Lakukan perjalanan ke dalam jiwamu sendiri, bawa senter kekudusan Allah dan berjalanlah ke dalam kegelapan jiwamu. Tiap kali berdosa, bukan lagi melihat pada dosa, tetapi melihat gelapnya jiwa kita dengan melihat terang kekudusan itu. Ketika kita bisa semakin melihat betapa dalam dosa kita, kita semakin bisa melihat betapa besar terang itu. Semakin kita di tempat gelap, makin kita melihat betapa terangnya terang itu. (Baca Mazmur 51).
2. Jalan kegagalan.
Jika kita melihat alur dalam Lukas 18, maka kita bisa membagi alur tersebut demikian.
Lukas 18:9-14 : tentang orang Farisi dan pemungut cukai
Lukas 18:15-17 : untuk kenal Tuhan, harus seperti anak-anak
Lukas 18:18-27 : kalau mau ikut Tuhan, harus tinggalin harta
Lukas 18:28-30 : Petrus merasa berhasil (dibandingkan dengan orang muda tersebut). Karena ia telah meninggalkan segalanya dan mengikut Kristus. Sehingga ia bertanya apa hadiah untukku?
Lukas 18:31-34 : masuk tentang penderitaan Yesus.
2 tokoh :
Farisi -> orang muda
dan
Pemungut cukai -> anak-anak
Lalu Petrus merasa berhasil, namun kemudian di ayat 31-34, Yesus seperti berkata pada Petrus : "Bukan prestasimu, Petrus."
Kapan Petrus baru memiliki pemahaman ayat 31-34?
Ketika ia mengalami brokenness (kehancuran).
Bukan kerohanian yang penuh dengan kejayaan, tetapi pengalaman-pengalaman yang menemui kegagalan-kegagalan kita.
Kita sering jatuh dalam dukacita duniawi karena kita selalu melihat aku ini baik, aku ini OK. Jika kita mengalami brokenness, kita makin melihat kita butuh salib. Setiap kali gagal, makin melihat betapa besar salib. Setiap kali ada penghancuran, kita makin melihat betapa besarnya dosa.
Sehingga ketika kita makin mengalami pergumulan melawan dosa, ketika kita sampai pada dukacita ilahi (bukan duniawi), kita makin sadar kita tidak bisa apa-apa tanpa salib.
Kita perlu bertumbuh dalam salib karena Lukas 7:47 : Makin besar salib, makin besar kasih Tuhan dan ketika kita mengasihi Tuhan, itu sebagai tanda kasih bukan karena guilty, tetapi karena awareness itu makin bertambah dalam.
Penutup : Baca Lukas 7:47 (dengan terjemahan yang sudah diubah)
"Sebab Aku berkata kepadamu : Dosanya yang banyak itu telah diampuni, maka ia banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."




