Wednesday, June 15, 2011

Transforming Spirituality - sesi 7 - Kehidupan Kerohanian yang BENAR

Transforming Spirituality - sesi 6 - Kehidupan Kerohanian yang SALAH

Kembali berbicara tentang jurang dosa.
Jika ditanya berapa besar ukuran dari jurang dosa, apakah jawabanmu?

Jurang dosa tidak terukur panjangnya. Mengapa? Karena jurang spiritual ini memisahkan Allah yang suci dengan manusia yang begitu rusak.
Kalau begitu, berapa besar ukuran salib itu?
Salib itu tidak terukur! Oleh karena itu, salib itulah yang menyebabkan kita bisa menyeb'rang ke Allah.

Kalau begitu, ketika pertama kali kita percaya Yesus dan setelah kita percaya, sudahkah kita punya jumlah yang aktual tentang dosa dan salib?
BELUM! Pemahaman salib dan dosa tidak objektif, karena dosa dan salib tidak terukur.

Mari kita membaca 1 Korintus 15:9, Efesus 3:8, dan 1 Timotius 1:15.
Ketiga surat tersebut adalah surat yang ditulis oleh Paulus. Surat 1 Korintus ditulis di awal pelayanan Paulus dan di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara rasul-rasul". Surat Efesus ditulis di tengah pelayanannya, dan di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang percaya." Dan surat 1 Timotius yang ditulisnya di masa akhir pelayanannya, di sana ia berkata : "aku adalah orang yang paling berdosa di antara semua orang berdosa."

Jika kita membandingkan Paulus dengan perumpaan mengenai hutang 50 dan 500 dinar yang ada di Lukas 7:41-43, mungkin waktu menulis surat 1 Korintus itu Paulus seperti berhutang 50 dinar, ketika menulis surat Efesus katakanlah Paulus berhutang 500 dinar, dan sampai ke masa ia menulis surat 1 Timotius mungkin Paulus berhutang 5 juta dinar.


Actual size dari salib sama, namun dalam pemahaman size-nya menjadi berbeda. Dan mungkin pemahaman Paulus mengenai besarnya salib tidak berhenti di 1 Timotius saja, karena mungkin pemahaman akan besarnya salib semakin bertambah dan semakin bertambah. Oleh karena itu, ucapan syukur kita tidak akan bisa dibandingkan dengan apa yang kita terima. Tidak akan pernah cukup ucapan syukur itu.

Kalau begitu, apakah salib pernah menjadi masa lalu?
TIDAK! Justru salib itu akan bertambah besar dan itulah pertumbuhan kita.
Hidup kudus bukan berarti hidup makin bersih dan makin bersih. Kalau hidup kudus itu artinya makin bersih, berarti Paulus tidak punya kekudusan hidup karena toh dia makin lama makin jorok dan makin jorok.
Hidup kudus bukan berarti hidup makin bersih dan makin bersih, justru makin jorok, makin jorok dan makin jorok. Makin jorok bukan berarti kita lalu melakukan dosa dengan sekeinginan hati kita. Itu justru terkutuk, tulis Paulus di surat Roma.

Kalau begitu, apa sih pertumbuhan itu?
Pertumbuhan adalah bertambah besarnya salib karena kita makin ngeliat betapa celakanya aku tanpa salib. Kristen tidak menawarkan hidup makin bersih, tapi bukan juga berarti kita makin jorok di dalam tingkah laku hidup kita.

Lalu, kenapa kita ga sadar salib semakin besar?
Karena kita butuh kesadaran betapa besarnya dosa.
Dan bagaimana caranya kita bisa melihat besarnya dosa hingga mendekati ukuran aktual?
Dengan makin melihat kekudusan Allah (ketinggian salib).

Jika kita ingin tahu berapa kedalaman sesuatu, kita pasti harus tahu tingginya, dan kalau kita mau tahu berapa ketinggian sesuatu, kita perlu tahu kedalamannya.
Jika mau melihat berapa tingginya salib, kita harus melihat kedalaman dosa. Dan jika mau melihat berapa dalamnya dosa, kita harus melihat berapa tingginya kekudusan Allah.

Ada 7 jurus yang sering kita pakai untuk membuat dosa makin tidak kelihatan :
- Memakai kriteria yang double
Contoh : Kalau aku ngotot, itu karena aku konsisten. Tapi kalau orang lain ngotot, itu karena orang itu kepala batu.

- Melihat kesuksesan-kesuksesan dan prestasi-prestasi kita, melihat apa yang tidak kita langgar, sehingga melihat kalau aku ini ga jelek-jelek amat.

- Bisa mengukur dosa : Ada yang lebih berdosa dari aku. Jadi dosanya masih boleh nambah.

- Dosa itu dari eksternal.
Contoh : Aku tidak lagi memukul adikku, tetapi di dalam hati, kebencian pada adikku semakin bertambah. Hanya mengukur pada : aku tidak memukul lagi.

- Kita biasa melihat dosa itu ada yang permissive dan ada yang commisive. Dalam perumpamaan mengenai orang Samaria, penyamun melanggar semua yang tidak boleh dilakukan. Sedangkan imam dan lewi melanggar apa yang seharusnya dilakukan.
=> Contoh lain : Memang tidak berzinah, tetapi di otak setiap hari mikir untuk tidak setia sama isteri. Dosa di otak dibiarkan begitu saja.

(2 lagi tidak disebutkan oleh pembicara...)

Kita sering melihat berapa besar akibat, bukan berapa besarnya dosa, sehingga keterbalikan yang sedang kita alami :
Hidup yang hutangnya makin berkurang, makin berkurang, dan makin berkurang...
Ini yang menyebabkan anda bukan hanya kehilangan salib, tetapi juga salib yang dilihat present oleh Paulus, salib yang dilihat sebagai kabar baik, bagi kita menjadi kabar buruk, karena fokus kita : aku harus begini, aku harus begitu.

Jika kita membaca Lukas 18:9-14, maka kita dapatkan pertumbuhan yang benar, yaitu dari orang yang berdoa seperti orang Farisi, menjadi orang yang berdoa seperti pemungut cukai. Bukan sebaliknya. Karena itu, semakin hari kita tidak merasa lebih baik dari orang lain, karena tidak ada yang bisa kita banggakan, semuanya itu adalah anugerah...

Jikalau begitu, kapankah seseorang memiliki kerohanian yang terbaik di hadapan Allah? Kapan orang itu berkenan di hadapan Tuhan?
Yaitu saat ia melihat Tuhan dan kemudian ia berkata : "Tuhan, betapa aku butuh salibMu." Salib secara kognitif tidak akan bertumbuh, tetapi awareness yang berubah. Ada kerinduan bahwa salib itu semakin besar. Sampai salib itu menguasai seluruh ruang dalam hidup saya. Itu adalah kerohanian terbaik dan yang berkenan di hadapan Tuhan.

Kalau begitu, apakah yang harus kita lakukan?
1. Lakukan perjalanan ke dalam jiwamu sendiri, bawa senter kekudusan Allah dan berjalanlah ke dalam kegelapan jiwamu. Tiap kali berdosa, bukan lagi melihat pada dosa, tetapi melihat gelapnya jiwa kita dengan melihat terang kekudusan itu. Ketika kita bisa semakin melihat betapa dalam dosa kita, kita semakin bisa melihat betapa besar terang itu. Semakin kita di tempat gelap, makin kita melihat betapa terangnya terang itu. (Baca Mazmur 51).

2. Jalan kegagalan.
Jika kita melihat alur dalam Lukas 18, maka kita bisa membagi alur tersebut demikian.
Lukas 18:9-14 : tentang orang Farisi dan pemungut cukai
Lukas 18:15-17 : untuk kenal Tuhan, harus seperti anak-anak
Lukas 18:18-27 : kalau mau ikut Tuhan, harus tinggalin harta
Lukas 18:28-30 : Petrus merasa berhasil (dibandingkan dengan orang muda tersebut). Karena ia telah meninggalkan segalanya dan mengikut Kristus. Sehingga ia bertanya apa hadiah untukku?
Lukas 18:31-34 : masuk tentang penderitaan Yesus.

2 tokoh :
Farisi -> orang muda
dan
Pemungut cukai -> anak-anak

Lalu Petrus merasa berhasil, namun kemudian di ayat 31-34, Yesus seperti berkata pada Petrus : "Bukan prestasimu, Petrus."
Kapan Petrus baru memiliki pemahaman ayat 31-34?
Ketika ia mengalami brokenness (kehancuran).
Bukan kerohanian yang penuh dengan kejayaan, tetapi pengalaman-pengalaman yang menemui kegagalan-kegagalan kita.

Kita sering jatuh dalam dukacita duniawi karena kita selalu melihat aku ini baik, aku ini OK. Jika kita mengalami brokenness, kita makin melihat kita butuh salib. Setiap kali gagal, makin melihat betapa besar salib. Setiap kali ada penghancuran, kita makin melihat betapa besarnya dosa.

Sehingga ketika kita makin mengalami pergumulan melawan dosa, ketika kita sampai pada dukacita ilahi (bukan duniawi), kita makin sadar kita tidak bisa apa-apa tanpa salib.
Kita perlu bertumbuh dalam salib karena Lukas 7:47 : Makin besar salib, makin besar kasih Tuhan dan ketika kita mengasihi Tuhan, itu sebagai tanda kasih bukan karena guilty, tetapi karena awareness itu makin bertambah dalam.

Penutup : Baca Lukas 7:47 (dengan terjemahan yang sudah diubah)
"Sebab Aku berkata kepadamu : Dosanya yang banyak itu telah diampuni, maka ia banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Transforming Spirituality - sesi 6 - Kehidupan Kerohanian yang SALAH

Transforming Spirituality - sesi 5 - Living As A Son, NOT A Slave

Ada 2 jurang besar dalam kehidupan kita, yaitu :
1. Jurang yang memisahkan kita dengan Allah dikarenakan dosa.
2. Ada gap antara kekristenan kita setelah percaya dengan hidup Kristen yang ideal.


Gambaran kita tentang orang Kristen yang ideal bagi setiap kita berbeda-beda. Cara tahunya adalah pikirkan apa yang selalu membuat kita frustasi dalam kerohanian. Ada orang yang merasa frustasi karena belum penginjilan, maka pastinya di dalam gambaran orang Kristen yang ideal bagi dia salah satunya suka penginjilan. Atau jikalau bagi dia orang Kristen yang baik itu adalah orang yang senang PA, maka salah satu ciri orang Kristen yang ideal bagi dia adalah senang PA.

Gambaran yang jelas tentang hidup Kristen yang ideal adalah sangat penting. Karena gambaran itulah yang menjadi goal kita dari pertumbuhan rohani kita. Dan ketika goal itu tidak tercapai, kita menjadi frustasi.

Maka orang Kristen berikutnya yang bisa menjalani aktivitas keagamaan tanpa kerohanian adalah mereka yang terjebak dalam kekristenan siklus.


Seperti gambar di atas, di dalam perjalanan kerohaniannya kepada hidup Kristen yang ideal, orang tersebut menerima Firman, kemudian mengambil komitmen. Setelahnya ia berjuang dan berjuang memegang komitmen tersebut, namun setelah beberapa saat, orang tersebut gagal dan kemudian jatuh lagi dalam dosa, pada akhirnya merasa bersalah (guilty). Setelah itu mengaku dosa dan memohon pengampunan dari Tuhan, dan mengambil komitmen lagi.

Namun ternyata siklus tersebut tidak berhenti sampai di sana. Karena setelah berkomitmen, berjuang begitu keras, pada akhirnya gagal, merasa bersalah, mengaku dosa dan kemudian meminta ampun lagi, dan mengambil komitmen lagi. Makin hari keadaan orang ini makin parah. Makin lama ia di dalam siklus itu, makin besarlah rasa bersalah yang ia miliki.

Sampai akhirnya ia bisa menang dari dosa tersebut... 1 minggu.. 2 minggu.. 3 minggu.. bahkan sampai 2 bulan.. Namun ternyata setelah itu ia jatuh lagi dan ini makin parah. Karena guilty makin besar.

Sampai kapan saudara akan berputar di siklus ini?
Sampai pada 1 tahap, yaitu ketika ia kehilangan kepercayaan akan iman Kristennya. Ia menjadi apatis dan bahkan tidak mau lagi pengakuan dosa, karena toh nantinya bakal berbuat dosa lagi.
Namun pada satu titik akhirnya ia mengikuti retreat atau KKR atau KPR atau event tertentu yang akhirnya menyadarkan dia dan saat itu dia melakukan recommitment. Dan inilah titik yang semakin parah. Karena siklus tersebut kembali berulang. Ketika gagal, rasa sakit semakin dalam dan kemarahan terjadi pada diri sendiri. Pada titik sebelumnya memang ia juga mulai marah pada diri, namun kali ini lebih besar lagi kemarahan tersebut. Kemudian pada tahap terakhir ia bukan lagi meragukan kekristenannya, tetapi meragukan kekristenan itu sendiri sebagai suatu dusta. Ia bisa berkata bahwa ia percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, tetapi tidak percaya kalau Tuhan Yesus bisa mengubah diri seseorang.

Kita mungkin tetap melayani, namun di dalamnya, kerohanian kita sudah keropos dan hancur. Dan ini adalah kondisi ketika kita mati rohani. Inilah orang yang disebut mati rohani. Orang yang tadinya berjuang begitu keras, namun pada akhirnya mengalami kematian.

DAN INI ADALAH KEROHANIAN YANG SALAH

Apa yang salah dengan kerohanian siklus?
Yang salah adalah perjalanan rohani bermula dan berakhir pada diri kita sendiri. Kita berjuang mati-matian sendiri. Istilah yang sering disebut : Salvation is free, but discipleship is costly. Memang aku selamat itu gratis, namun setelahnya... aku harus bayar harga sendiri, mati-matian untuk mencapai akhir. Di dalam perjalanan rohani jenis ini, tidak ada lagi salib, sehingga :

1. Salib hanya menjadi alat transportasi, bukan sebagai alat untuk transformasi. Sehingga ketika kita mendengar bahwa Yesus adalah Juruselamat, kita menganggap itu adalah untuk orang non Kristen saja. Salib menjadi masa lalu karena perjuangan rohani yang ada bergantung pada diri sendiri.

2. Penerimaan Allah bergantung pada prestasi kita dalam mencapai hidup kudus. Yang kita rasa : kalau aku berhasil, baru kita merasa Allah bangga pada kita. Sesungguhnya pertanyaan : "Banggakah Allah kalau Ia melihat engkau?" atau sejenisnya adalah pertanyaan yang melecehkan kerohanian! Kenapa? Karena pada akhirnya kita melihat pada dosa kita, melihat pada diri kita dan tidak lagi melihat salib. Padahal sesungguhnya Tuhan tidak pernah kecewa karena kita. Kenapa? Karena dari semulanya, kita mengenal Tuhan karena Kristus, sehingga tidak ada alasan bagi Tuhan untuk kecewa lagi pada kita.

3. Sebuah perpalingan. Kalau sebelumnya aku menyeberang melewati salib, sekarang tergantung diriku. Sehingga kita masuk dalam kepercayaan : Salib + Prestasi.

4. Sadar atau tidak sadar, kerohanian ini sudah kembali menjadi Taurat. Karena itu gambaran orang Kristen yang ideal yang kita miliki, itu menjadi Taurat bagi kita. Apa sebenarnya fungsi Taurat?
- Menyatakan dosa.
- Memperkuat keinginan untuk berdosa.
- Selalu membuat kita merasa ada saja yang salah.
- Membuat kita mati dalam dosa kita.

Perubahan yang terjadi : dari yang memandang salib, sekarang jadi mencari cara agar bisa mengalahkan dosa.

Akan semakin parah lagi jikalau kekristenan siklus ini dialami mereka yang punya background patologi (gangguan jiwa). Ciri-cirinya :
- ia butuh didengar & dimengerti
- ia butuh diterima & dihargai
- ia butuh dikonfirmasi
- ia butuh perasaan dimiliki
- ia butuh dibutuhkan
- ia butuh disentuh

Kalau kebutuhan diterima dan dihargai ini tidak ia terima, akan menimbulkan rasa malu (keberadaanku salah, aku cacat). Dalam menjalani kehidupannya, kegagalan demi kegagalan membuat dia malah membenci diri sendiri. Ini yang menyebabkan dia jatuh dalam keputusasaan kerohanian. Dan orang yang memiliki background patologi ini sesungguhnya lebih membutuhkan motivator daripada pendeta, ia lebih menginginkan self-development, dan tidak memerlukan salib.

Sampai di sini kita mengupas tentang kehidupan kerohanian yang salah. Selanjutnya kita akan membahas bagaimana sebenarnya kehidupan kerohanian yang benar.

Sunday, June 5, 2011

Transforming Spirituality - sesi 5 - Living As A Son, NOT A Slave

Transforming Spirituality - sesi 4 - Uproar of Spiritual Journey

Baca Lukas 15:11-32

Cerita tentang perumpamaan anak yang hilang mungkin sudah sangat sering teman-teman baca atau dengar. Baik itu dari sisi anak bungsu, Bapa, maupun anak sulung. Namun pada kesempatan ini, mari kita membandingkan anak bungsu dan anak sulung.

Anak bungsu :
- kurang ajar. Ketika ia meminta warisan terlebih dulu, secara tidak langsung sebenarnya sudah seperti berkata : "Kamu ini tidak mati mati padahal umur dah tua. Karna aku ga sabar lagi, sini kemarikan harta bagianku."
- tapi jujur
- mau kebebasan
- jatuh begitu dalam
- sadar akan situasi dirinya dan sadar kalau hidup dengan Bapa lebih enak
- Bapa keluar dan anak bungsu mau masuk

Anak sulung :
- ada di rumah Bapa
- marah di rumah Bapa
- Bapa keluar, tetapi anak sulung tidak mau masuk.
- anak sulung ada dir umah Bapa, namun hidup sebagai seorang Kristen budak, bukan anak. ("...For years, I've been working like a slave...")

Maka pertanyaan untuk kita pribadi :
- Who are you? And where are you?
- Are you a son? Or are you a slave?

Jika engkau adalah anak bungsu, maka kembalilah pulang. Rumah Bapa lebih enak dari tempat manapun juga.

Jika engkau adalah anak sulung, maka berhentilah menjadi budak! Hidupilah hidupmu sebagai anak.

Seorang anak ketika akan bertemu Bapanya, pasti sangat senang. Lalu bagaimana engkau ketika akan bertemu Bapa?

Masalah sebenarnya sudah terjadi dari kita kecil. Orang tua mengajarkan yang tidak baik.
- kalau dapat nilai bagus atau dapat juara 1, nanti akan diberikan hadiah. Akhirnya si anak belajar seperti budak, demi mendapatkan hadiah.

Dan kebiasaan serta budaya budak ini sudah mempengaruhi juga kehidupan kerohanian.
- berdoa seperti budak. Karena sebelum tidur harus berdoa, akhirnya doa menjadi kewajiban dan isi doa terus-terusan sama setiap malamnya. Berdoa sebagai kewajiban = berdoa seperti budak.
- saat teduh dengan ngantuk dan terpaksa. Akhirnya tidak mendapatkan apa-apa karena melakukan saat teduh seperti budak, bukan anak. Seorang anak punya kerinduan pada Bapanya. Maka ketika saat teduh, doa, beribadah, dll, akan ada kerinduan yang begitu besar pada Bapa. Bapa mengasihi anak, dan anak mengasihi Bapa.

Pada sesi 3, ekspresi kerohanian terasa begitu berat. Penginjilan terasa begitu berat. Mengapa?
Ini juga dikarenakan hidup kerohanian yang dijalani seperti budak. Harus ini, harus itu, dan akhirnya dipandang sebagai suatu kewajiban dan akhirnya menjalani hidup seperti budak.

Jadi, apa yang engkau pilih?
Menjalani hidup sebagai anak, atau sebagai budak?

Transforming Spirituality - sesi 4 - Uproar of Spiritual Journey

Transforming Spirituality - sesi 3

Baca Markus 1:21-39

Kesibukan adalah hiruk pikuk dunia ini. Kesibukan sering membuat kita penuh dan secara teoritisnya memang seperti itu. Namun dalam perikop yang kita baca tadi, kesibukan Yesus tidak membuat Dia penuh.

Kenapa sih Yesus mau berganti tempat? Padahal toh Dia melakukan hal yang sama, dan mau tetap di Kapernaum ataupun di tempat yang lain, sama saja sibuknya.

Namun sesungguhnya kata "marilah kita pergi" adalah kata yang penting dalam ritem kesibukan. Ini adalah spirit dari menarik diri dari kesibukan.

Kalau sibuk, warning diri akan bahaya kesibukan yang membuat kita terikat dan terkungkung dalam kesibukan itu.

Kalimat yang sering dicetuskan oleh orang sibuk : "kalau ga ada aku, maka akan jadi berantakan."
Ketika kita pengen jadi orang penting, kita bakal terikat akan keisbukan itu dan itu adalah tindakan menghancurkan diri.

Menarik diri adalah tindakan melepas, dan ketika melepas, ada ketenangan. Tidak dikontrol waktu, tetapi dapat mengontrol waktu dan melepas kesibukan-kesibukan yang ada.

Kadang ketika pelayanan, kita sering mengharapkan nilai yang baik dari orang lain, baik itu jemaat ataupun teman sepelayanan. Akhirnya ketika persiapan, pengen semua jemaat menikmati pelayanan kita. Dan akhirnya pengen nyenengin jemaat. Pada akhirnya, sebenarnya apa yang sedang terjadi?
Kita diikat oleh pelayanan itu.

Dan ketika kita mengevaluasi diri, itulah saat kita menarik diri dan melepas kesibukan tersebut.

Yesus sangat sibuk, namun Ia dapat menarik diri dan mengontrol kesibukan itu. Yesus bangun pagi-pagi dan berdoa, namun itu pastinya bukan satu-satunya cara. Di tengah kesibukanNya, Ia terus menarik diri sehingga Ia tahu apa yang sedang Ia lakukan.

Kalau kita bangun, lalu berdoa dan saat teduh tapi dengan rasa ngantuk dan terpaksa, sesungguhnya kita hanya sedang melakukan tindakan keagamaan dan pada akhirnya kita tidak menarik diri.
Tapi, menarik diri secara aktual (retreat, saat teduh, dsb) tetap perlu. Menarik diri yang tidak aktual adalah ketika hati kita tidak terikat pada kesibukan itu. Namun, tentunya hati seperti itu tidak gampang dimiliki. Oleh karena itu, kita perlu evaluasi diri.

Menarik diri harus diikuti juga dengan sikap menyerahkan diri. Menyerahkan diri bisa dengan doa, saat teduh, membaca buku rohani, mendengar khotbah, dsb. Namun pointnya bukan itu. Ketika berdoa, sadarlah kalau kita tidak sekedar doa, tetapi kita sedang menyerahkan diri ketika kita berdoa. Begitu juga ketika kita saat teduh, membaca buku rohani, mendengar khotbah, dsb.

Penyerahan diri ini adalah penyerahan untuk dibentuk dan diolah oleh Allah. Jangan sampai ketika kita pelayanan, tidak ada penyerahan untuk dibentuk dan diolah oleh Allah.

Mazmur 131
Pada ayat 1 kita bisa melihat bahwa Daud sedang menarik diri. Kalimat ini bukan berarti kita tidak perlu memikirkan bagaimana ada kemajuan yang besar dalam persekutuan, namun hati Daud yang rindu jangan sampai aku tinggi hati dan merasa hebat.
Di ayat 2, Daud menenangkan jiwa. Ketika Daud berkata seperti anak yang disapih maka keadaan dari anak itu begitu tenang. Ketenangan ini yang perlu ada dalam hidup kita.
Ditutup dengan ayat 3 : Berharap pada Allah selama-lamanya.

Ayat 1-2a Daud menarik diri, dan ayat 2b-3 Daud menyerahkan diri.

Di dalam perjalanan hidup kita, lika-liku hidup adalah bagian yang tidak bisa kita tolak. Namun, bagaimanakah engkau menjalani hidup?

Ketika menarik diri, kita akan sadar kalau kita tidak bisa apa-apa. Namun ketika kita menyerahkan diri, kita akan menikmati kekuatan dari Allah dalam perjalanan hidup.

Pertanyaan untuk refleksi dan evaluasi diri :
- Di dalam menjalani ritme kesibukan itu, bagaimanakah engkau hidup?
- Apa yang sebenarnya mengungkung hidupmu? Kuatir akan masa depan yang membuatmu terus-menerus merasa ada yang harus disiapkan? Atau perasaan berarti yang membuat engkau pengen jadi orang penting?

Transforming Spirituality - sesi 3

Transforming Spirituality - sesi 2

Baca Wahyu 2:1-4

Bisakah orang Kristen menjalani tingkah laku agama (ibadah, pelayanan, dsb) tanpa kerohanian?
Bisa. Pertama adalah orang yang mengalami kekosongan rohani, yang kedua adalah orang yang mengalami kematian rohani.

1. Kosong Rohani
Kebanyakan orang-orang yang mengalami kekosongan rohani adalah mereka yang lahir dari keluarga Kristen, yang diwariskan agama Kristen dan yang tidak mengalami pengalaman bersama Tuhan.

Perjumpaan bersama Kristus tidak bisa diwariskan, walau doktrin, ekspresi kerohanian, pengetahuan Kristen, moralitas Kristen bisa diwariskan. Karena tidak mengalami perjumpaan bersama Kristus, maka kekristenan dijalani dengan kekosongan rohani. Orang seperti ini tidak mampu menggambarkan siapa Tuhan bagi dia secara pribadi.

Banyak gereja yang akan mati/mundur jika tidak melakukan :
- shame and guilty
- fear
- iming-iming

Contohnya begini.
- Berikan perpuuluhan, maka akan mendapatkan berkat. (iming-iming)
- Kalau tidak persembahan, nanti akan mengalami masalah. (fear)
- Misal ada 1 cerita yang disampaikan di dalam khotbah.

Ada seorang yang punya uang 100 ribu. Waktu ia melihat ada seorang pengemis, dia begitu iba dan akhirnya dia memberikan 90 ribu miliknya ke pengemis itu. Pengemis itu tahu kalau si pemberi memiliki uang 100 ribu, sehingga masih ada sisa 10 ribu pada si pemberi. Si pengemis kemudian mencuri uang 10 ribu milik si pemberi itu.

Sampai di sana respon setiap pendengar pastinya kaget dengan sikap si pengemis yang tidak tahu terima kasih itu. Dan kemudian pemberitaan Firman dilanjutkan. Pengemis itu adalah engkau. (shame and guilty)

Mengapa gereja berubah menjadi seperti ini? Bagaimana sebenarnya respon yang bisa kita lihat di Alkitab?
Kembali ke cerita mengenai perempuan berdosa yang sudah saya bagikan di sesi ke 2. Ketika perempuan itu melakukan hal yang lebih dari budak, sebelumnya Tuhan tidak berkata ke perempuan itu : "Karena Aku sudah mengampuni kamu, maka kamu harus memberikanku minyak yang mahal".

Begitu juga dengan cerita Yakub. Jika teman-teman ingat tentang cerita Yakub, di Kejadian 28:20-22, Tuhan tidak menyuruh Yakub untuk ngelakuin ini dan itu, tapi Yakub sendiri yang bernazar dan pada akhirnya ia melakukan nazarnya itu : mengakui Allah, membuat mezbah dan melakukan perpuluhan.

Perempuan berdosa dan Yakub tidak disuruh atau diperintah oleh Tuhan, namun mereka berespon setelah mengalami Tuhan.

Contoh lain lagi berkaitan dengan 3 metode di atas adalah penginjilan. Di kitab Kisah Para Rasul, kita bisa melihat bahwa saksi adalah being, bukan doing.
Namun, ketika perjumpaan rohani tidak ada, penginjilan juga dilakukan dengan 3 metode tersebut.
- takut-takutin : kalau kamu pulang ke Surga dan ditanya berapa jiwa yang kau bawa, apa jawabmu?
- guilty : mengajak untuk menghitung dalam 1 tahun berapa orang mati? dibagi 12, jadi berapa orang mati dalam 1 bulan? dibagi lagi mpe 1 menit, berapa orang yang mati tanpa kenal Tuhan?
- iming-iming : mahkotamu akan berat ketika kamu banyak penginjilan.

Padahal penginjilan itu seharusnya karena dia sudah menikmati keindahan Allah, ia tidak tahan kalau tidak bercerita.

Akibat dari 3 metode di atas :
- Penginjilan jadi beban yang begitu berat
- Penginjilan menjadi hal yang sangat menakutkan
- Setelah penginjilan merasa lega, bukan karena mengasihi dan peduli akan keselamatan orang yang diinjili, tapi lebih karena terselamatkan dari guilty feeling.

Contoh lain lagi adalah tentang doa. Sebelum makan, harus berdoa. Kalau sudah makan 1 sendok, baru keingat belum berdoa, guilty feeling langsung muncul.

Pada akhirnya semua aktivitas keagamaan itu menjadi ritual yang kering.

Kemudian.. Berbicara tentang moral, bagaimana kondisi moral yang lahir dari rohani yang kosong?
Moral kristen tidak dirasa sebagai pelepasan, tetapi kekangan. Sehingga perkataan Yesus di Matius 11:38, beban tidak dilihat ringan, tetapi sangat berat. Ekspresi kerohanian bisa dilakukan tanpa kerohanian, tetapi menjadi beban yang sangat berat.

Oleh karena itu, perlu ada perjumpaan dengan Tuhan sehingga kerohanian tidak lagi kosong. Pertanyaan yang perlu anda tanyakan sebagai evaluasi terhadap diri :
Apakah ada perjumpaan dengan Tuhan yang pernah kau alami? Masih merasakan kehadiran-Nya kah?

Saturday, June 4, 2011

Transforming Spirituality - sesi 2

Transforming Spirituality - sesi 1

Baca Lukas 7:36-47. Cerita dalam perikop ini adalah tentang seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa, yang membasuh kaki Tuhan Yesus.

Perhatikan ayat 47.
Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.

ia telah banyak berbuat kasih.
Kata banyak di ayat ini mengandung arti kwalitas dan kwantitas sama-sama banyak, padahal kalau kita hitung apa yang dilakukan perempuan ini, hanya 4 hal yang ia lakukan :
- ia membasahi kaki itu dengan air mata
- ia menyeka kaki itu dengan rambutnya
- ia mencium kaki itu
- ia meminyaki kaki itu dengan minyak wangi

Lalu mengapa yang 4 ini bisa disebut banyak?
Karena ia telah melakukan hal yang lebih dari budak, padahal ia bukan budak dan tidak ada yang memerintahnya.

- ia membasahi kaki itu dengan air mata, bukan dengan air biasa
- ia menyeka kaki itu dengan rambutnya --rambut yang dipandang sebagai mahkota bagi wanita-- , bukan dengan handuk
- ia meminyaki kaki itu dengan minyak wangi --minyak yang sudah sengaja disiapkan, minyak yang begitu mahal, yang seharusnya dipakai ketika akan menikah, minyak yang untuk mendapatkannya, paling tidak perlu proses 1 tahun--

Maka alasan ke-2 mengapa banyak, karena Yesus melihat prosesnya. Perempuan itu dikenal sebagai penzinah dan sangat berbahaya ketika ia ke rumah Simon, proses yang begitu besar yang telah ia lakukan.

Hal ke-3, perempuan itu memiliki hati yang menyembah. Segala yang ia lakukan berpusat pada kaki karena ia tahu betapa ia tidak layak. Apa yang ia miliki, ia sadar itu pun tidak layak dan hanya ia pusatkan pada kaki Yesus.

Mari kembali perhatikan ayat 47.
Sebab akibat pada ayat 47 dalam terjemahan indonesia : perempuan itu boleh beroleh pengampunan karena ia berbuat banyak kasih.

Maka pertanyaan yang muncul :
Apakah karena aksi perempuan itu maka Yesus bereaksi? Atau apakah karena aksi Yesus mengampuni perempuan itu maka perempuan itu berespon dengan reaksi mengasihi dengan perbuatan kasih yang banyak?

Kalau terjemahan indonesia benar, maka :
- Allah bereaksi ketika manusia berusaha menggapai Allah
- Ada timbal balik : kalau bisa bayar, kita dapt, berarti tidak ada pemberian yang gratis dari Allah dan kalau sudah bayar mahal tapi tidak mendapatkan sesuai dengan bayaran, maka perempuan itu berhak marah.
- Hubungan dengan Tuhan akan berkelas, tergantung dari apa yang manusia lakukan.

Namun, mari kita bandingkan dengan terjemahan NIV dan ESV.
NIV
"Therefore, I tell you, her many sins have been forgiven--for she loved much. But he who has been forgiven little loves little."

ESV
"Therefore I tell you, her sins, which are many, are forgiven—for she loved much. But he who is forgiven little, loves little.”

Kalau terjemahan NIV/ESV benar, maka 3 pemahaman di atas tidak berlaku. Yesus yang beraksi dan kita merespon dengan bereaksi. Sehingga Allah yang berinisiatif, bukan kita. Kenapa perempuan itu diampuni? Karena ia tidak dapat bayar, dan Yesus yang bayar. Dan mengapa perempuan itu melakukan tindakan seperti itu? Karena perempuan itu berespon.

Inilah anugerah.

Kalau begitu apakah anugerah dapat diambil?
Tidak bisa, karena itu adalah kemurahan hati dari pemberi!
Dan tanpa kerendahan hati, maka anugerah itu tidak akan mau diterima oleh orang itu. Anugerah tidak gampang diterima karena kita harus berjumpa dengan ketidakberdayaan kita.

ay 41-43
Berhutang 500 dinar dan berhutang 50 dinar, mana yang lebih banyak? Pastinya yang hutang 500. Orang yang punya hutang 500 punya perasaan dikasihi oleh pelepas hutang lebih besar daripada yang berhutang 50.
Sehingga.. makin orang itu berdosa, makin dekat ia dengan Tuhan.

3 alasan terjemahan NIV/ESV benar :
ay 42-43 : pelepasan hutang dulu baru mengasihi.
ay 47 : pengampunan dosa menggunakan perfect tense, sedangkan kasih menggunakan past tense.
ay 47 : orang yang banyak diampuni, banyak berbuat kasih.

Pengalaman mendapatkan pengampunan adalah kerohanian.
Respon setelah menerima pengampunan adalah aktivitas keagamaan.
Maka, pengalaman rohani bersama Tuhan harus mendahului daripada aktivitas keagamaan.
Spiritualitas harus mendahului tingkah laku dan kehidupan keagamaan kita.

Kita harus ingat hal tersebut karena begitu seringnya kita hanya terfokus pada aktivitas keagamaan dan tidak memperhatikan pengalaman yang harus terjadi sebelumnya.

Misal Efesus 4:32
Pengalaman rohani : diampuni oleh Allah
Aktivitas keagamaan : ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni.

Kita sering langsung terpaku pada nasehat ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni. Dan pengalaman rohani diampuni oleh Allah tidak diingat.

Ingat pengalamanmu diampuni oleh Allah. Dan pengalaman inilah yang membuat kita ingin berespon dengan ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra, dan saling mengampuni.

Masalahnya banyak di antara kita ini orang-orang Kristen legalistik, buktinya :
- milih-milih pendeta
- kalau ada orang kerasukan, ga berani ngusir karena takut kita yang dirasuki nantinya
- kalau ada masalah, marah dan kecewa pada Tuhan

Kenapa bisa begini?
Karena kita dari kecil diajari hubungan timbal balik.
Orang tua lebih sayang anak yang lebih pintar. Guru lebih sayang anak yang tidak nakal. Dari kecil sudah diajarin untuk melihat prestasi. We get what we pay.

Maka ketika kita diajari doktrin kristen, tidak ada aplikasi yang sesuai dengan doktrin itu.

Oleh karena itu, fondasi pertama :
Pengalaman bersama Tuhan harus mendahului hidup keagamaan.

Transforming Spirituality - sesi 1 - Reality of Spiritual Journey

Yesus datang ke dunia untuk menebus manusia, mengampuni, dan memberikan keselamatan pada kita. Namun apakah Yesus hanya datang ke dunia untuk hal tersebut?
Empat kitab Injil menguraikan kehidupan Kristus. Mengapa harus sampai empat? Apakah tidak cukup satu saja? Mengapa kitab Injil diuraikan secara panjang lebar?
Karena kitab Injil ingin merepresentasikan apa dan bagaimana hidup itu.

Ketika membicarakan mengenai kehidupan rohani, Yohanes 17:13-17 cukup merepresentasikannya.
Bunyi yang sama kita dapati dari ayat 14b dan ayat 16 : "... mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia."

Kita memang tidak bisa dilepaskan dari dunia karena kita sedang berada di dunia. Dunia seolah-olah menjadi sentral, akar, fondasi, menjadi segala-galanya. Namun menarik ketika Yesus berkata bahwa kita bukan dari dunia, walau kita lahir dan ada di dunia.

Yohanes 8:23 juga mencatat bahwa Yesus berkata pada orang-orang Yahudi yang tidak percaya Yesus bahwa : "Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas. Kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini."
Di sini ada pengidentifikasian. Identifikasi tentang diri kita sesuai dengan identifikasi mengenai Kristus. Hidup dari debu dan kembali menjadi debu, inilah hidup di dunia. Tetapi hidup kita bukan dari debu menjadi debu, tetapi dari sorga menuju ke sorga, walau di dalamnya ada hidup dari debu menjadi debu.

Hidup dari debu menjadi debu adalah hidup yang bersifat materi dan duniawi. Ingat! Perjalanan kita bukan dari debu menjadi debu, tetapi perjalanan kita adalah dari atas kembali ke atas. Dari surga kembali ke surga. Dari Bapa dan kembali ke Bapa.

Pada yohanes 16:28 Yesus berkata :
- Aku datang dari Bapa
- Aku masuk ke dalam dunia
- Aku meninggalkan dunia
- Aku pergi kepada Bapa

Hidup kita juga adalah seperti itu. Kita datang dari Bapa, sedang masuk dalam dunia, pada akhirnya akan meninggalkan dunia dan kembali kepada Bapa.

Memang kita berada di dunia ini, namun perjalanan di dunia ini terlalu kecil. Kita memang ada di dunia, tetapi kita tidak menjadi milik dunia. Dan dalam perjalanan hidup di dunia ini, perlu ada intervensi dari Allah, sehingga hidup itu bernilai.

Perasaan kehampaan dari hidup dari debu menjadi debu adalah ketika kita bertanya : "mengapa aku hidup?"
Perasaan ini pastinya akan mendominasi karena kita hidup dari debu menuju pada debu.
Namun, titik kehampaan itu adalah titik awal dari perjalanan rohani. Dan dari titik ini kita menyadari bahwa hidupku tidak dari debu menuju ke debu dan Yesus menawarkan hidup dari atas menuju ke atas.

Kalau kita tahu dari mana dan menuju ke mana kita, kita akan tahu rute perjalanan kita. Perjalanan dunia ini tidak boleh sampai mengungkung dan mencekam hidup kita! Ingat! Statusmu adalah status sorgawi.

Maka pertanyaan evaluasi yang harus kita tanyakan : Rute manakah yang aku jalani selama ini? Dari surga menuju surga? Atau sedang terjebak dalam hidup dari debu menuju ke debu? Berapa waktu sudah kita habiskan dari debu menuju ke debu?
Apa yang menarik engkau dalam perjalanan rohanimu? Apa yang menguras energimu selama ini?



Next : Transforming Spirituality - sesi 2

Transforming Spirituality - the bride


Hari ini di dalam sesi terakhir retreat Transforming Spirituality yang aku ikuti, prosesi yang berbeda dijalankan ketika perjamuan kudus. Setelah Firman Tuhan disampaikan, Pendeta memberikan waktu bagi jemaat untuk berdoa. Setelah jemaat sudah siap, dan si jemaat tahu bahwa inilah waktunya bagi dia datang ke perjamuan itu, jemaat akan masuk ke dalam barisan, dan satu per satu di dalam barisan yang ada, berjalan ke meja perjamuan, dan kemudian menerima roti dan anggur.

Setelah aku berdoa dan aku tahu aku siap menerima perjamuan ini, aku masuk ke dalam barisan yang sudah ada. Inilah yang kurasakan...

Aku seperti mempelai wanita yang sedang berjalan ke arah Sang Mempelai Pria. Langkah demi langkah dipenuhi hati yang semakin berdebar, hati yang tersenyum dan penuh syukur. Dan ketika aku sampai di meja perjamuan itu, aku mengambil roti dan anggur, dan kemudian kembali mengucap syukur.

Inilah saatnya.

Aku siap untuk menyatu dalam persekutuanku dengan Kristus.
Perjamuan cinta dari-Nya yang Ia sediakan bagiku.
Perjamuan cinta dimana Ia menunjukkan betapa besar kasih-Nya padaku.
Betapa indahnya perjamuan kasih ini.

"Aku memang berdosa, ya Tuhan. Namun biarkanlah aku menerima kasih-Mu sehingga hidupku dipenuhi dengan kasih-Mu. Dan dengan kasih itu, aku dikuatkan. Dan karena kasih itu, maka aku bisa mengasihi-Mu, ya Tuhanku."

Transforming Spirituality - alive

Beberapa minggu yang lalu di dalam satu training tentang menulis, aku diminta menulis tulisan yang menggambarkan aku itu seperti atau aku itu bagaikan apa..
Saat itu aku sungguh tidak bisa menulis apa pun. Di dalam waktu yang singkat aku berusaha berpikir dan tidak ada yang bisa aku tuliskan. Bukan karena aku tidak tahu karakterku, namun karena aku tidak tahu bagaimana menggambarkan tentang aku.

Namun dalam retreat Transforming Spirituality ini, aku ingin menulis banyak sekali tentang seperti apakah aku itu, dan tentang bagaikan apa aku itu..

Aku bagaikan domba yang selangkah lagi akan jatuh dalam lembah kekelaman. Aku ini seperti zombie (mayat hidup). Aku ini seperti seorang yang sedang digerogoti bagian dalam tubuhnya, namun di luar terlihat sehat-sehat saja. Aku sudah hampir mati...

NAMUN

Dia, Tuhanku, tidak membiarkanku. Gembalaku menarik aku sehingga aku tidak terjatuh dalam lembah kekelaman itu. Sang Terang itu menunjukkan terang-Nya di tengah kegelapan yang aku rasakan. Dan tiada kata yang bisa mengekspresikan betapa aku bersyukur dan berterima kasih karena Dia mau berbelas kasihan padaku...

Aku hampir mati, NAMUN aku menerima belas kasihan dari Tuhanku.
Dan inilah yang kurasakan : ALIVE
Aku bagaikan seorang yang baru hidup kembali ...

Aku seperti hampir mati tenggelam,
NAMUN
Ia menyelamatkanku dan memberikanku kesempatan untuk sekali lagi menghirup udara kehidupan.

Betapa besar belas kasihan yang aku terima.
Betapa besar kasih karunia yang aku terima.
Betapa besar kasih-Nya bagiku...

Hati ini penuh ucapan syukur ketika belas kasihan ini boleh kuterima..
Terima kasih ya, Tuhan...