Thursday, August 19, 2010

Penelope

Kutipan dongeng Yunani yang diceritakan kembali oleh Eric dan Leslie Ludy di buku When God Writes Your Love Story. Ambil maknanya ya.. ^^

Dahulu kala, hiduplah seorang ratu yang cantik bernama Penelope. Ia sedang merajut segulung kain linen putih dengan saksama. Kain linen itu nantinya akan dihadiahkan kepada suami, yang kepulangannya begitu ia harapkan setiap hari. Sudah bertahun-tahun suaminya pergi ke tempat yang jauh untuk bertempur, dalam perang yang disebut perang Troya. Setiap hari ia selalu menyebut nama suaminya berulang-ulang, entah bagaimana, berharap sang raja bisa mendengar tangisan hatinya yang pedih.

Suatu hari, banyak pemimpin dan pangeran hebat yang sedang mencari istri berlayar ke Itacha, berusaha memenangkan hati Penelope. Mereka meyakinkan ratu kesepian itu bahwa suaminya, sang raja, telah tewas di medan perang. Selain itu, demi kebaikan rakyat Itacha dan untuk melindungi sang ratu, mereka menyarankan sang ratu untuk memilih salah satu dari mereka untuk menjadi suami barunya.

Akan tetapi Penelope, dengan air mata berlinang di mata anggunnya, menjawab, "Wahai para pahlawan dan para pangeran yang saya muliakan, saya menolak untuk mempercayai apa yang kalian katakan. Saya yakin yang mulia suami saya masih hidup, dan saya harus menjaga kerajaannya dengan setia sampai beliau kembali. Bahkan saat ini saya sedang merajut segulung kain linen putih untuk beliau."

Para pemimpin negara dan pangeran itu dengan keras kepala menolak untuk pulang, dan setiap hari mereka mengingatkan sang ratu bahwa ia membutuhkan seorang suami dan Itacha membutuhkan seorang raja.

Bulan demi bulan berlalu, Penelope tetap bergeming. Dengan setia ia terus merajut gulungan kain linennya sembari mengharapkan kembalinya sang raja. Para pemimpin negara dan pangeran itu berusaha membujuknya dengan segala cara, tetapi semuanya sia-sia. Kelompok pelamar yang penuh harapan itu pindah ke istana, menikmati anggur dan masakan kerajaan. Mereka menolak untuk pergi sampai Penelope memilih salah satu dari mereka untuk dinikahi.

Penelope kewalahan, akhirnya dengan enggan ia setuju memilih suami baru begitu ia selesai merajut gulungan kain itu, dan jika hingga saat itu suaminya belum kembali. Minggu demi minggu berlalu, ia terus merajut. Namun, pada malam hari, diam-diam ia mengurai jalinan kain yang telah dirajutnya sepanjang siang. Akhirnya, siasatnya ketahuan.

Seorang pemimpin dalam kelompok pelamar, Agelaus namanya, mengumpulkan semua pelamar itu dan menegur Penelope dengan suara keras. "Ratu Penelope," teriaknya marah, "kekeraskepalaan Anda membuat kami tidak punya pilihan lain, selain mengambil alih masalah ini. Kami telah mengetahui siasat licik Anda untuk menunda menyelesaikan gulungan kain linen terkutuk itu, dan habis sudah kesabaran kami. Selesaikan kainnya besok dan pilihlah suami baru Anda sebelum tengah hari, atau kamilah yang akan memilihkannya untuk Anda! kami tidak akan menunggu-nunggu lagi!"

Keesokan siangnya, para pelamar berkumpul, menanti keputusan Penelope. Tepat pada saat ia memasuki ruang perjamuan makan, diam-diam menyelinaplah seorang pengemis aneh ke dalam pertemuan itu. Kepala letihnya tersembunyi di bawah tudung yang usang dan jubah compang-camping membalut tubuh lemahnya. Dengan diam-diam ia berjalan terhuyung-huyung menuju bagian belakang ruangan itu, tidak memerhatikan seringai mengejek dari para pelamar yang dilewatinya. Penelope mulai berbicara, menarik perhatian semua hadirin.

"Wahai para pemimpin negara dan pangeran," kata Penelope, ada duka yang mencekat tenggorokannya yang anggun, "kita akan menyerahkan keputusan ini kepada takdir. Lihatlah, saya memegang busur raksasa milik suami saya, sang raja. Kalian semua diharuskan menguji kekuatan kalian dengan memanah menggunakan busur ini. Dan, saya akan memilih salah satu dari kalian yang mampu memanah paling tepat sasaran."

"Setuju!" teriak para pelamar itu, dan dengan antusias mereka mengantre untuk menguji kekuatan mereka.

Satu per satu mereka berusaha keras untuk memanah dengan menggunakan busur raksasa itu. Dan, karena kehilangan kesabaran, satu demi satu melempar busur itu ke tanah dan melangkah pergi.

"Hanya raksasa yang bisa memanah menggunakan busur besi itu!" erang mereka.
"Mungkin pengemis tua dekil itu ingin menguji kekuatannya," teriak salah satu dari mereka dengan sinis.
Menanggapi ejekan itu, pengemis itu bangkit dari kursinya dan berjalan tertatih-tatih ke depan ruangan.
"Tua bangka bodoh!" para pelamar itu berteriak mengejek saat pengembara dekil itu mengangkat busur raksasa itu.

Tiba-tiba perubahan yang luar biasa terlihat pada diri orang asing itu. Pengembara yang lemah itu meluruskan punggungnya dan berdiri tegak. Bahkan meski terbalut pakaian yang compang-camping, jelas sekali bahwa dalam setiap jengkal tubuhnya, pengembara lemah itu adalah seorang raja. Lalu, dengan mudahnya ia melengkungkan busur dan merentangkannya, disertai dengan tatapan tak percaya dari semua yang hadir di ruang aula yang agung itu. Sang raja telah kembali!

Para pelamar itu tak mampu berkata apa-apa. Dan, dengan panik mereka berbalik dan lari menyelamatkan diri. Namun, anak panah demi anak panah yang dilepaskan raja begitu cepat dan akurat, tak satu pun yang tidak mengenai sasaran. Tak satu pelamar pun yang lolos dari murka sang raja pada hari itu.

Penelope berlari menghampiri pahlawannya, yang berpakaian compang-camping, dan memeluknya. Dan dengan suara seperti malaikat, ia berkata, "Aku telah dengan setia menjaga kerajaanmu, yang mulia rajaku!" Dengan lembut ia mempersembahkan gulungan kain linen yang halus kepada suaminya. "Aku telah menghabiskan waktu bertahun-tahun merajut hadiah ini, berharap engkau segera kembali. Setelah selesai, aku diminta untuk memilih seorang suami." Lalu, sambil mendaratkan ciuman ke pipi suaminya yang kotor, ratu itu berkata, "Dan aku memilihmu."


Kesetiaan merupakan sebuah disiplin yang dimurnikan dan ditempa melalui latihan selama bertahun-tahun. Seiring berjalannya waktu, disiplin itu pun menjadi sebuah kebiasaan. Dalam hal ini, disiplin itu adalah belajar mengasihi calon suami/istrimu dengan cara menanti dengan sabar, terus-menerus berharap, dan menjalani standar tinggi yang merupakan panggilanmu.
Marilah kita meneladani Penelope dan menemukan upah yang menakjubkan dan luar biasa atas kesabaran. Teladanilah Penelope dan tabahlah menahan kesakitan yang luar biasa demi mendapatkan perolehan yang besar.

Percaya atau tidak, Penelope bukanlah orang pertama yang patut diteladani. Allah menciptakan konsep kesetiaan sebelum permulaan zaman. Dia adalah teladan utama kesabaran yang penuh kepedihan dan penantian yang bertujuan. Dengan air mata menggenang di mata-Nya yang lembut, bahkan sekarang pun Dia menantikan sebagian dari kita, untuk mengizinkan-Nya masuk dalam hidup kita. Ketika pada akhirnya, kamu tiba di gerbang istana-Nya yang terbuka, Dia akan berlari menghampirimu, memelukmu, dan berbisik di telingamu, "Kau anak-Ku, sepadan dengan penantian-Ku yang penuh kepedihan!"

1 comment:

Anonymous said...

hooo... gitu ya.. hmm...