Kemaren malam, di waktu persekutuan doa yang ada, sangat menikmati lirik dari 1 lagu, Setia, khususnya bait yang ke-2.
Isinya seperti ini :
Jangan takut 'kan kuasa iblis, ataupun serangan manusia
taatlah p'rintah Panglimamu, kehendakNya harus kau patuhlah.
Bagai dibakar dalam api, tiada takut ancaman raja,
m'reka sungguh gagah perkasa, sampai mati pun tetap setialah.
Setia, setia, nyatakanlah tekadmu,
setia, bekerja, setia bagi Rajamu,
setia, setia, jangan pandang manusia,
susah apapun, tetap sandarlah, Tuhan tahu setiamu.
Penulis lewat lagu ini berkata jangan takut pada kuasa iblis ataupun takut pada serangan manusia. Ketika merenungkan apa itu serangan manusia, itu bisa berbentuk pengacuhan, penghinaan, bahkan mungkin aniaya dari manusia karena mau setia pada Tuhan.
Jemaat awal mengalami yang namanya penganiayaan yang begitu besar-besaran, dan tidak hanya itu, bahkan juga mereka menerima penghinaan yang menyakitkan.
Para martir yang mau mempertahankan kesetiaan mereka telah menunjukkan teladan untuk mau menderita bagi Kristus.
Ketika aku merenungkan lagu ini, aku membandingkan pada apa yang menjadi beban bagiku untuk tetap setia melayani Dia, dan itu masih jauh dari apa yang pernah dirasakan para martir, dan terlebih lagi penderitaan yang pernah dirasakan Kristus sendiri.
Pengen belajar untuk tidak manja, tidak mundur hanya karena "derita kecil" yang dialami.
Tetap setia dengan tidak memandang manusia, tetapi memandang pada Sang Panglima, kepada Raja, yang juga Allah yang setia menjagaku.
No comments:
Post a Comment