Akhirnya semester ini sudah berlalu... Awal menghadapi semester ini ditandai dengan stress, down.. Semester yang sungguh berat bagiku...
1 sisi tahu Tuhan pasti pimpin dan aku pasti akan melewati juga semester ini.. Tapi... di sisi lain.. ketakutan tetep ada.. kekhawatiran akan banyaknya proyek dan banyaknya dosen2 ga jelas yang menyebalkan tetep sulit untuk ilang...
Dan.. akhirnya sekarang terlewati juga semester ini... thanks God..
Hari ini menonton sidang oracle untuk yang ke-3x.. Yang ada di benakku adalah.. aku akan menghadapi semester 7.. aku akan menghadapi lagi stress dan mungkin down.. tapi aku juga tahu klo pasti akan melewati moment itu.. moment mengerjakan skripsi dan setelahnya disidang dan diwisuda.. pasti akan melewati semua moment itu...
Hm... ntah apa yang aku rasakan dan pikirkan.. aku juga bingung..
Apakah aku menikmati semester2 yang sudah berlalu?
Cukup sih.. cukup menikmati kesulitan dan kesenangan yang ada.. Di dalam menjalani tiap semester ketika kuliah, pasti ada kesulitan dan kesenangannya.. Tapi klo sekarang mo pikir2 agi.. sepertinya aku "cukup kurang berjalan lambat" dalam menjalaninya.. ntah kenapa semuanya berlalu begitu saja dengan begitu cepat... fiuh...
Tinggal 2 semester maka akan selesai.. Setelahnya? Aku juga bingung.. Ada hal yang mungkin sudah diatur untuk dilakukan.. Tapi ntah kenapa ketika memikirkan akan menjalaninya.. pemikiran di atas pun muncul lagi.. bahwa aku akan memasukinya dan akan menjalaninya.. di dalamnya akan ada kesulitan dan kesenangan.. tapi setelahnya akan terlewati...
Bosan ya menjalani seperti itu aja.. hahahhaa...
Ntah ini pemikiran seorang phleg atau apa aku juga tidak mengerti..
Tapi memang kerasa sih.. waktu begitu cepat berlalu dan ajal pun mendekat.. hmm...
Yang membuat aku selalu "feel guilty" ketika menjalani yang sudah berlalu dan yang akan datang adalah.. terlalu sering mulutku tertutup untuk memberitakan Injil.. terlalu sering aku bermalas-malasan dan tidak berjuang dengan sungguh2.. terlalu sering aku ingin suatu event yang sulit terlewati begitu saja dan akhirnya beban pun lepas... tapi di tengah ingin melakukan yang berbeda 180 derajat dari yang "terlalu sering" itu.. terlalu sering juga keinginan dagingku dalam comfort zone itu menang.. tapi yang dihasilkan "guilty" yang bertambah dan bertambah lagi...
Yah.. aku merasa ini pemikiran yang tidak baik.. tapi inilah yang terjadi...
Mungkin Anda dapat memberi comment? :)
Hm.. ketika ingin menutup postingan yang ga jelas ini... aku tetap teringat 1 ayat yang masih menggalaukan hatiku sih...
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.