Tanggal 19 Januari 2014 yang lalu, papa dipanggil Tuhan sekitar jam 5 pagi. Itu adalah hari Minggu. Beberapa hari sebelum kepergiannya, memang beliau sakit, namun tidak terlalu berat. Memang selama kurang lebih 10 tahun ini beliau stroke karna diabetnya. Karna itu, ketika tekanan darah atau diabetnya lebih tinggi dari yang biasanya, kakinya akan kurang kuat untuk berjalan.
Beberapa hari sebelum kepergiannya, dia mengeluhkan hal yang sama, kaki yang kurang kuat untuk berjalan. Tetapi di Sabtu malam dia mengatakan rasanya mau pingsan. Ini adalah hal yang tidak pernah ia katakan. Saat itu aku tidak sedang di rumah, mama yang sedang di rumah pun kemudian mencoba memijat dll dan papa bilang dah baikan. Tidak berapa lama setelah aku pulang ke rumah, papa muntah. Setelah muntah, ia berkata kondisi tubuhnya baikan, maka aku dan mama pun merasa agak lega karna berpikir mungkin papa panas dalam saja, karena 2 hari sebelumnya ketika diberikan obat panas dalam kondisi tubuhnya ada baikan. Setelah itu, kami tidur.
Diceritakan oleh mama, bahwa ketika jam 2 pagi, papa berkata sudah jam 2 (sambil melihat HP), tidak bisa tidur, tangan terasa dingin. Maka mama dengan terkantuk-kantuk memijat tangan papa. Dan ketika jam 5 pagi, mama terbangun karena suara "ngorok" dari papa yang berbeda dengan ngorok biasanya. Ketika terbangun, mama langsung melihat wajah papa yang sudah tidak seperti biasa, dan kemudian memanggilku bangun. Aku terbangun dengan terkejut, berlari ke kamar mama dan membantu mama sebisa mungkin untuk melakukan sesuatu pada papa dan menelepon pak Pendeta untuk datang segera.
Sekitar 20 menit kemudian, Pak Pendeta dan seorang rekan gereja sampai di rumah dan langsung mencoba nadi papa. Pak Pendeta berkata nadinya sudah berhenti, namun aku memaksa dengan berkata masih ada nadinya, tolong bantu bawa ke Rumah Sakit. Akhirnya setelah sekitar 5 menit papa dibawa ke Rumah Sakit. Di Rumah Sakit dilakukan ini dan itu disaksikan oleh mama sementara aku harus ke bagian pendaftaran untuk mengerjakan proses pendaftarannya. Setelah dilakukan ini dan itu, pak Pendeta bertanya kepada dokter : Dok, sebenarnya jantungnya masih berdetak tidak? Dokter pun kemudian mengambil alat yang sering kulihat di film-film. Alat yang mendeteksi apakah jantung masih berdetak. Ternyata ketika dipasangkan maka garis lurus yang biasanya kulihat di film-film itu muncul. Maka, dokter menyatakan, papa sudah tiada.
Demikianlah kejadian yang men-shock-kan ini. Papa dipanggil Tuhan di dalam tidurnya.
Dalam beberapa hari masa berduka ini, sulit sekali untuk menerima bahwa papa sudah tiada. Berkali-kali aku berdoa, "Tuhan, bangkitkanlah papa." karena papa sebelumnya sempat berdoa, "Tuhan tolong jangan ambil aku dulu, aku masih mau bertemu Wendy, adikku (yang akan pulang dalam jangka waktu 1 minggu lagi untuk bersama-sama merayakan Imlek)." Namun waktu Tuhan bukanlah waktuku. Ia yang memegang kendali segala sesuatu.
Di hari ke-4, aku membuka-buka kembali blog dari salah satu hamba Tuhan, yaitu Ko Jeffrey, dan berkesempatan untuk membaca postingannya dengan judul : 2014.
Ketika aku membaca postingan tersebut, aku menyadari bahwa ini juga adalah salah satu tonggak di dalam hidupku dan keluargaku. Sebuah bab yang juga harus kulewati, karena masih ada bab berikutnya yang harus kulewati bersama Tuhan. Masa depan terasa berat. Kesepian adalah satu hal yang kutakutkan terjadi pada mamaku. Namun, Tuhan ingatkan untuk tidak khawatir akan yang belum terjadi. Tetap berpegang pada Tuhan.
Hari ini adalah hari ke-5 masa berdukaku. Besok papa baru akan dikuburkan karena menunggu kedatangan semua anggota keluargaku. Saat menulis postingan ini aku sedang menunggu kedatangan adikku.
Aku tidak tahu hari esok akan seperti apa. Namun yang aku tahu :
"Trust and Obey! For there's no other way to be happy in Jesus, but to trust and obey."