Sudah begitu lama aku ingin menuliskan tentang hal ini, yaitu tentang berdoa. 18 April yang lalu, aku mendapatkan jawaban doaku, yaitu tentang bagaimana seharusnya aku berdoa.. bagaimana berdoa yang benar itu...
Inilah yang mau aku bagikan di postingan x ini.. [tentunya ini adalah ringkasan khotbah ^^]
Diambil dari Mazmur 139.
Dalam Mazmur 139 ini ada 2 hal yang berbeda dari doa-doa biasanya. Inti doa Daud tidak pada permintaan/permohonan/keluhan, tetapi ia memulai doanya dengan suatu pernyataan iman, sesuatu yang jarang dipakai orang beriman ketika berdoa.
ay 1-6 membicarakan Allah yang Maha Tahu.
Kesalahan yang sering kali terjadi ketika kita berdoa adalah kita berdoa dengan sok tahu, kita menyebutkan apa saja yang kita anggap kita perlukan, dan menyuruh Tuhan untuk mengabulkannya. Kita berpikir bahwa kita lebih tahu apa yang kita perlukan dan Tuhan hanya perlu mendengarkan saja. Padahal... yang kita anggap keperluan kita, sering kali hanyalah apa yang kita inginkan...
Namun, ketika kita mengerti dan sadar bahwa Allah Maha Tahu, maka seharusnya kita tidak sok tahu akan keperluan kita, karena kita tahu Allah tahu apa yang sebenarnya kita perlukan. Maka dari itu di dalam doa kita, seharusnya kita bersandar pada Tuhan, karena Dialah yang tahu akan keperluan kita.
ay 7-12 membicarakan Allah yang Maha Hadir.
Kesalahan berikutnya yang terjadi adalah banyak orang beriman yang berdoa dengan rasa takutnya, takut karena harta yang berkelimpahan, ataupun takut karena berkekurangan. Banyak yang berdoa meminta keamanan, ketenangan, dan tidak ingin ada masalah di dalam hidupnya.
Seharusnya ketika kita sadar bahwa Allah Maha Hadir, maka kita berdoa dengan percaya akan kehadiran-Nya, bukan dengan ketakutan dan tidak percaya akan Allah yang Maha Hadir. Di mana pun kita diutus, ketika kita tahu Allah Maha Hadir, maka kita pun siap untuk pergi.
ay 13-16 membicarakan Allah yang Maha Kuasa.
Ketika kita sadar bahwa Allah Maha Kuasa, maka sekali lagi kita hanya perlu percaya padaNya di dalam doa-doa kita.
Namun banyak yang salah di dalam pengertiannya akan Allah yang Maha Kuasa, banyak orang yang berdoa dengan keyakinan bahwa Allah berkuasa, tidak ada yang mustahil bagi Allah, dan Allah sanggup melakukan apa pun yang ia minta. Sesungguhnya saat itu dia tidak sedang percaya pada Allah yang Maha Kuasa, tetapi memanfaatkan Allah yang Maha Kuasa itu demi imannya yang maha kuasa untuk menggerakkan Allah yang Maha Kuasa.
Seharusnya ketika kita mengerti Allah Maha Kuasa, tidak ada yang mustahil bagiNya, maka walaupun kehendak yang ingin Ia kerjakan itu mustahil di mata dunia, tapi itu tidak mustahil bagiNya. Dan kita hanya perlu percaya pada rencana dan kehendakNya.
ay 23-24, Daud mengenal siapa dia di hadapan Allah. Ia sadar akan ketidaklayakannya dalam meminta, ia sadar akan keberdosaannya. Maka Daud meminta agar Tuhan menyelidiki jikalau jalannya serong, dan menuntunnya di jalan yang kekal.
Banyak orang yang berdoa dengan menuntut, berkata bahwa ia telah melakukan ini dan itu, dan sekarang Allah harus melakukan ini dan itu baginya. Tetapi Daud sadar akan ketidaklayakannya. Ketika telah melakukan ini dan itu pun, ia tetap meminta Tuhan yang melihat jikalau jalannya serong, dan memohon Tuhan menuntunnya di jalan yang benar.
Waktu kita mengenal Allah, seharusnya di dalam doa kita ada pertumbuhan. Ketika kita berdoa seharusnya ada perubahan di dalam doa kita, bukan isi doa yang sama, yang itu itu saja.
Dan ketika kita berdoa, seharusnya kita bukan berpikir agar keputusan Allah yang berubah atau kita berdoa untuk merubah Allah, tetapi seharusnya kita yang berubah, untuk masuk dalam rencanaNya.
Kemudian.. berbicara tentang relasi kita dengan Allah di dalam doa kita, ada satu ilustrasi yang perlu kita renungkan.
Bayangkan suami sudah kerja, capek-capek pulang, dan si isteri menyambut suami dengan keluhan ini itu, tentang anak, tentang pekerjaan rumah tangganya yang begitu melelahkan, dsb. Dan setelah itu si isteri meminta ini itu, meminta tas baru, meminta diperbaiki ini itu, meminta jalan-jalan, dsb.
Relasi kita dengan Tuhan seharusnya tidak seperti hubungan suami isteri seperti itu. Ketika kita berdoa, seharusnya kita tidak hanya meminta dan mengeluh.
Di dalam pengenalan yang semakin dalam dengan Allah, seharusnya kita semakin terkagum-kagum dengan Allah, dan di dalam doa kita seharusnya kita menyatakan kekaguman kita pada Allah, bukan hanya diisi dengan permintaan, permintaan dan permintaan.
Setelah merenungkan hal-hal ini, aku menyadari terlalu sering aku salah dalam berdoa. Namun satu kebenaran lagi yang dibukakan.. bahwa Allah tetap saja mendengarkan doa-doaku yang salah itu. Ia tetap bersabar dan tetap mendengarkan anakNya berbicara.
Doa dengan pengenalan yang benar akan Allah, seharusnya tidak hanya berisi keluhan dan permintaan/permohonan, tetapi juga ucapan syukur, ungkapan kekaguman kita padaNya, dsb.
Kiranya kita boleh memiliki relasi yang semakin dalam, dengan komunikasi yang benar dengan Allah.